ads

Irama Jantung Tak Beraturan: Kenali Bedanya yang Normal dan yang Berbahaya

Novita Sari - Rabu, 01 April 2026
dr. Evan Jim Gunawan, Sp.PD, Sp.JP, (K) CCDS, Dokter Spesialis Jantung Konsultan Aritmia di Eka Hospital MT Haryono, Jakarta Selatan saat Media Meet Up pada Selasa, 31 Maret 2026. Foto: Novi
dr. Evan Jim Gunawan, Sp.PD, Sp.JP, (K) CCDS, Dokter Spesialis Jantung Konsultan Aritmia di Eka Hospital MT Haryono, Jakarta Selatan saat Media Meet Up pada Selasa, 31 Maret 2026. Foto: Novi
A A A

Kenzie (nama samaran), seorang anak laki-laki berusia 13 tahun yang sedang duduk tenang di bangku sekolah, tiba-tiba merasa dadanya bergemuruh hebat. Bukan karena gugup menghadapi ujian, bukan pula karena habis berlari di lapangan. Jantungnya berdegup hingga 230 kali per menit, sebuah kecepatan ekstrem yang bahkan sulit dicapai atlet saat lari maraton.

Kisah ini nyata. Remaja tersebut sudah mengalami kejadian serupa sampai tiga kali. Awalnya muncul, lalu hilang selama beberapa bulan, kemudian kambuh lagi tanpa aba-aba. Beruntung, di usianya yang sudah beranjak besar, ia mampu menyampaikan dengan jelas apa yang ia rasakan: rasa tidak nyaman, sesak, dan gelisah yang luar biasa.

Kisah nyata itu diungkap oleh dr. Evan Jim Gunawan, Sp.PD, Sp.JP, (K) CCDS, Dokter Spesialis Jantung Konsultan Aritmia di Eka Hospital MT Haryono, Jakarta Selatan saat Media Meet Up pada Selasa, 31 Maret 2026.  

Di antara kalian juga mungkin pernah ada yang merasakan jantung tiba-tiba berdegup kencang padahal sedang bersantai. Bagi yang pertama kali merasakan, pastinya jadi cemas. Tapi tak perlu khawatir, tidak semua kondisi jantung berdebar tiba-tiba adalah berbahaya.

Diterangkan oleh dr. Evan, jantung kita memiliki sistem kelistrikan dengan jalur-jalur yang rumit agar dapat berfungsi. “Tubuh menggunakan sinyal listrik untuk membuat otot jantung berdenyut. Dalam kondisi normal, sinyal listrik berjalan tanpa hambatan dan membuat irama jantung konsisten. Namun, jika ada gangguan atau hambatan pada jalur sinyal listrik jantung, maka irama jantung menjadi tidak beraturan. Nah, kondisi irama jantung yang tidak beraturan inilah yang disebut sebagai aritmia,” jelasnya.

dr. Evan menceritakan bahwa mendeteksi aritmia pada anak punya tantangan tersendiri. "Kalau anaknya sudah besar seperti remaja tadi, kita enak, mereka bisa mengadu. Tapi kalau masih balita, mereka belum punya kosakata untuk bilang 'jantungku berdebar'," tuturnya.

Pada anak yang lebih kecil, gejalanya seringkali samar (tidak khas). Mereka mungkin terlihat:

  • Gampang lelah padahal aktivitasnya biasa saja.
  • Sering gelisah tanpa sebab.
  • Napas terlihat lebih cepat dari biasanya.

Bagi remaja 13 tahun tadi, titik terangnya muncul saat ia segera dibawa ke IGD saat serangan terjadi. Rekaman jantung (EKG) menangkap angka 230 itu. Dari data itulah, dr. Evan dan tim medis mengetahui dengan pasti: ada masalah pada "perkabelan" jantungnya.

Menemukan Jalur Listrik "Ilegal"

Dalam dunia medis, kasus ini biasanya melibatkan apa yang disebut accessory pathway atau jalur tambahan. dr. Evan menjelaskan bahwa jantung kita punya sistem listrik normal, namun pada sekitar 0,1% kelahiran, ada "kabel" tambahan yang tidak seharusnya ada di sana. Kabel inilah yang menyebabkan arus listrik jantung berputar-putar dan memicu "konslet" berupa detak jantung yang sangat cepat.

Lalu, apa solusinya? Apakah harus minum obat seumur hidup?

"Kami melakukan prosedur yang namanya ablasi," jelas dr. Evan. "Kami masukkan kateter kecil ke dalam jantung untuk mencari di mana letak kabel tambahan yang bikin konslet itu. Begitu ketemu titiknya, kita beri energi panas atau dingin untuk memutus kabel tersebut. Selesai," ucapnya.

Dikatakan dr. Evan, keputusan orangtua remaja tersebut untuk melakukan tindakan medis sangatlah tepat. Tanpa tindakan ablasi, kondisi ini akan terus berulang. Bahkan, seiring bertambahnya usia, serangan bisa muncul lebih sering. Misal, dari seminggu sekali menjadi tiga kali seminggu dan meningkatkan risiko pingsan secara mendadak.

Kini, remaja tersebut sudah bisa tersenyum lebar. Tidak ada lagi rasa sesak atau gelisah yang menghantui saat ia duduk di kelas atau bermain bersama teman-temannya. "Sekarang dia sudah kembali normal, bahkan sudah bisa main bola lagi," ungkap dr. Evan dengan nada lega.

dr. Evan pun berpesan, bagi para orangtua,  jika anak mengeluh dadanya terasa "aneh", sering pingsan, atau terlihat sangat lemas tanpa alasan, jangan ragu untuk melakukan rekam jantung. Deteksi dini bukan hanya soal menyembuhkan fisik, tapi juga mengembalikan keceriaan masa kecil mereka tanpa dihantui rasa takut akan debaran jantung yang tak beraturan.

Kasus nyata tersebut menjadi pengingat penting bagi kita: gangguan irama jantung atau aritmia bisa menyerang siapa saja, mulai dari lansia hingga anak-anak.

dr. Evan mengibaratkan jantung seperti sebuah mobil. Jika ada bagian mesin, selang minyak, dan struktur bodi, maka ada juga sistem perkabelannya.

"Aritmia adalah masalah pada sistem kelistrikan jantung tersebut. Sinyal listrik yang seharusnya berjalan mulus untuk memompa otot jantung, justru mengalami gangguan atau hambatan," jelas dr. Evan.

Secara umum, gangguan ini dibagi menjadi tiga kategori utama:

  • Takikardia: Jantung berdetak terlalu cepat (lebih dari 100 kali/menit saat istirahat).
  • Bradikardia: Jantung berdetak terlalu lambat (kurang dari 60 kali/menit), yang sering memicu pusing dan cepat lelah.
  • Atrial Fibrilasi (AF): Detak jantung tidak beraturan yang jika dibiarkan berisiko memicu penggumpalan darah penyebab stroke.

Membedakan Debaran Normal vs. Patologis

Tidak semua debaran jantung berarti penyakit. Tubuh kita memiliki respons alami untuk menaikkan nadi sesuai kebutuhan. dr. Evan menjelaskan perbedaan antara debaran Fisiologis (wajar) dan Patologis (bahaya):

Debaran Fisiologis (wajar/normal)

  • Pemicu dan ciri-ciri: Olahraga berat, minum kopi, stres, panik, atau jatuh cinta. Irama kembali normal saat pemicu hilang.

Debaran Patologis (waspada/bahaya)

  • Pemicu dan ciri-ciri: Muncul tiba-tiba tanpa sebab saat istirahat, bertahan lama, atau disertai gejala fisik lain.

“Tugas kami sebagai dokter adalah memastikan 'kucing itu kucing', bukan 'macan'. Artinya, kami harus membuktikan lewat pemeriksaan apakah debaran itu murni gangguan cemas (jinak) atau masalah jantung serius," ujar dr. Evan. Sekitar 30% kasus debaran yang datang ke poliklinik ternyata bersumber dari gangguan kecemasan.

Mengapa Aritmia Bisa Terjadi?

Beberapa faktor risiko yang diam-diam merusak sistem listrik jantung meliputi:

  • Penyakit Penyerta: Hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol.
  • Gaya Hidup: Konsumsi kafein berlebih (stimulan legal) dan kurang tidur.
  • Kondisi Medis: Gangguan tiroid, sleep apnea, hingga ketidakseimbangan elektrolit (kalium/magnesium).
  • Faktor Bawaan: Pada anak-anak, aritmia seringkali berhubungan dengan kelainan jantung bawaan atau adanya jalur listrik tambahan (jalur aksesori) sejak lahir.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan jika debaran jantung disertai dengan:

  • Pingsan atau nyaris pingsan: Pertanda aliran darah ke otak terganggu.
  • Nyeri Dada Hebat: Sensasi seperti ditindih beban berat.
  • Sesak Napas: Sulit menghirup oksigen meski tidak beraktivitas.

Diagnosa dan Solusi Modern

Kabar baiknya, teknologi medis saat ini sangat mumpuni dalam mendeteksi dan menangani aritmia. Diagnosa awal dimulai dengan EKG (Rekam Jantung) atau penggunaan Holter Monitoring untuk merekam detak jantung selama 24-48 jam.

Untuk penanganan permanen, terdapat prosedur Ablasi Jantung. Ini adalah prosedur minimal invasif (tanpa bedah terbuka) dimana dokter memasukkan kateter untuk "memutus" jalur listrik yang rusak menggunakan energi panas atau dingin. Seperti pasien remaja berusia 13 tahun tadi, setelah menjalani ablasi, ia kini bisa kembali aktif bermain bola tanpa rasa takut akan debaran yang muncul tiba-tiba.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Waspada! Ini Penyakit-Penyakit yang Sering Muncul Setelah Lebaran
img
Irama Jantung Tak Beraturan: Kenali Bedanya yang Normal dan yang Berbahaya
img
Mata Bintitan: Kapan Bisa Sembuh Sendiri dan Kapan Harus ke Dokter?
img
Puskesmas Pertama dengan AI di Indonesia: Teknologi OCR dan AI Prediktif untuk Kesehatan Ibu Hamil