ads

Lindungi Bayi Prematur dari  RSV (Respiratory Syncytial Virus), Kenali Gejalanya dan Cegah dengan Imunisasi Pasif

Efa Trapulina - Jumat, 21 November 2025
Kesadaran orang tua, kunci perlindungan bayi prematur. Bayi berisiko tinggi, termasuk prematur kini dapat diberikan perlindungan melalui Palivizumab yang efektif menekan 55 persen angka rawat inap akibat Respiratory Syncytial Virus (RSV) Foto: Freepi
Kesadaran orang tua, kunci perlindungan bayi prematur. Bayi berisiko tinggi, termasuk prematur kini dapat diberikan perlindungan melalui Palivizumab yang efektif menekan 55 persen angka rawat inap akibat Respiratory Syncytial Virus (RSV) Foto: Freepi
A A A

Bayi prematur atau yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Ironisnya, di Indonesia tercatat ada lebih dari 675.000 bayi terlahir prematur. Kondisi ini  menempatkan Indonesia pada peringkat ke-5 di dunia dengan jumlah kelahiran prematur tertinggi. Duh!

Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A, Subsp. Neo., Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi menyebutkan bahwa bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi karena paru-parunya belum berkembang sempurna. “Selain itu, bayi prematur juga belum sempat menerima transfer antibodi pelindung dari ibunya secara optimal selama masa kehamilan, sehingga sistem kekebalan tubuh mereka masih sangat lemah dan rentan terhadap berbagai infeksi,” ujar Prof. Rinawati dalam sesi edukasi bertajuk “Kenali RSV, Selamatkan Bayi Berisiko Tinggi” yang digelar oleh AstraZeneca Indonesia dalam rangka memperingati Hari Prematur Sedunia dan Hari Pneumonia Sedunia, Kamis (20/11) di Jakarta.

Dibandingkan bayi cukup bulan, bayi prematur memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar untuk dirawat di rumah sakit akibat infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV) pada tahun pertama kehidupannya. “Infeksi ini sering kali berkembang dengan cepat dan dapat memerlukan perawatan yang lebih lama serta intensif,” ujar dr. Rinawati.

RSV menjadi virus penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah dengan kontribusi sekitar 60–80% pada bronkiolitis dan 30% pneumonia pada bayi dan anak-anak di dunia.

Gejala awal RSV sering disalahpahami sebagai flu biasa karena gejalanya yang serupa, seperti pilek, bersin, dan batuk ringan. Padahal infeksi RSV dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat dan bahkan meninggalkan dampak jangka panjang termasuk peningkatan risiko asma, wheezing (mengi) kronis, serta penurunan fungsi paru di kemudian hari. 

Untuk membedakan RSV dengan penyakit pernapasan lainnya, penting untuk mengenali perbedaan gejalanya. Berdasarkan salah satu studi, diperkirakan 1 dari 10 bayi di Indonesia meninggal karena infeksi saluran napas bawah akibat RSV.

Commond Cold, Flu, Covid-19 dan RSV

Menurut National Foundation for Infectious Diseases (NFID), common cold umumnya menimbulkan gejala ringan seperti kelelahan, nyeri otot, dan sakit tenggorokan, namun jarang disertai demam.

Flu (Influenza) datang secara tiba-tiba dengan demam tinggi, nyeri otot, kelelahan, dan sakit tenggorokan, namun jarang menyebabkan sesak napas.

Sementara itu, COVID-19 memiliki gejala mirip flu tetapi sering disertai sesak napas, kelelahan berat, dan terkadang kehilangan indera penciuman atau perasa.

Nah, berbeda dengan ketiganya, RSV lebih sering menyerang bayi dan anak kecil dengan gejala batuk, demam ringan, wheezing (mengi), dan kesulitan bernapas. Pada tahap awal, infeksi RSV biasanya menyerupai flu biasa dengan pilek (rhinorrhea), bersin, dan hidung tersumbat, tetapi pada bayi dengan risiko tinggi, termasuk bayi prematur, gejala dapat dengan cepat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius.

“RSV sering kali belum menjadi perhatian utama bagi orang tua, padahal virus ini dapat berdampak signifikan pada kesehatan pernapasan anak. Studi di Indonesia menunjukkan RSV termasuk dalam dua virus yang paling umum ditemukan pada anak dengan kelompok usia yang sama mengidentifikasi RSV sebagai salah satu patogen utama penyebab pneumonia pada anak. Karena itu, penting bagi masyarakat, terutama para orang tua dengan bayi berisiko tinggi seperti bayi prematur, untuk meningkatkan kesadaran dan mengambil langkah pencegahan sedini mungkin agar bayi tetap terlindungi,” jelas Prof. dr Cissy Rachiana Sudjana Prawira, Sp.A(K), MSc, Ph.D., Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi Anak.

Imunisasi Pasif

“Berdasarkan Konsensus RSV Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2024, identifikasi dini RSV dan pemberian antibodi monoklonal seperti Palivizumab sebagai profilaksis infeksi RSV berat, direkomendasikan bagi bayi dengan risiko tinggi. Kelompok ini termasuk, bayi prematur, bayi dengan kondisi bronchopulmonary dysplasia (BPD) serta bayi yang memiliki penyakit jantung bawaan (congenital heart disease (CHD). Langkah ini merupakan upaya pencegahan penting yang perlu disadari orang tua. Palivizumab sendiri telah terbukti menurunkan angka rawat inap akibat RSV hingga lebih dari 50% pada bayi berisiko tinggi.” tambah Prof. Cissy.

Astrazeneca
Prof. Rina, Prof Cissy dan dr. Feddy sebagai narasumber talkshow memperingati Hari Prematuritas Sedunia (Foto: Efa)

Orang tua memiliki peran utama dalam menjaga bayi prematur agar tetap sehat dan tumbuh kuat. Mencegah satu kali infeksi berarti memberi satu kesempatan lagi bagi bayi untuk bernapas lebih lega, tertawa lebih lama, dan tumbuh dengan harapan yang lebih besar.

“Selain imunisasi pasif dengan pemberian antibodi monoklonal seperti Palivizumab, orang tua juga harus melakukan langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah bayi prematur terpapar RSV. Upaya tersebut diantaranya dengan rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit, memastikan sirkulasi udara di rumah tetap baik, serta membatasi aktivitas di tempat ramai,” imbuh Prof. Rina.

Selain upaya orang tua menjaga kesehatan bayi prematur, dukungan edukasi dan informasi dari pihak medis tetap menjadi bagian penting dalam mencegah risiko infeksi RSV.

“Upaya mengurangi risiko infeksi RSV tidak hanya bergantung pada tindakan berbasis klinis, tetapi juga pada kesadaran dan langkah preventif orang tua. Sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan anak, orang tua berperan penting dalam memahami cara penularan virus dan membiasakan perilaku hidup bersih sejak dini. AstraZeneca Indonesia berkomitmen mendukung edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman dan perlindungan bagi bayi berisiko tinggi,” ungkap dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia.

Pada akhirnya, kesadaran publik menjadi faktor penting untuk menekan beban penyakit RSV di Indonesia, terutama pada bayi prematur sebagai bagian dari kelompok berisiko. Kolaborasi lintas sektor seperti pemerintah, tenaga medis, organisasi profesi, dan industri kesehatan juga berperan besar dalam memperluas edukasi publik terkait infeksi ini.

“Kegiatan edukasi seperti ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan pernapasan, terutama bagi bayi berisiko tinggi. Kami percaya bahwa dengan edukasi yang berkelanjutan dan langkah pencegahan yang tepat, setiap bayi di Indonesia dapat tumbuh dengan perlindungan yang lebih baik dan kualitas hidup yang optimal,” tutup Esra Erkomay, President Director AstraZeneca Indonesia.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Rahasia Sehat dan Glowing dengan Cara Praktis: Inspirasi Nutrisi & Aktivitas Fisik Ala Gen-Z
img
Food Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kini Lebih Personal Berbasis DNA
img
Si Kecil Tumbuh Maksimal Lewat Inovasi Nutrisi dan Sains, Seperti Apa?
img
Penguatan Partisipasi Kesehatan Indonesia dengan 9 Pilar Solusi dan 5 Instrumen