ads

Masa Pemulihan Lebih Cepat, Artificial Ligament Jadi Pilihan yang Tepat Saat Alami Cedera ACL Di Lutut

Dwi Retno - Kamis, 13 Agustus 2026
Bukan hanya atlet profesional, cedera ACL juga dapat terjadi pada siapa saja, cedera ini terjadi ketika seseorang melakukan perubahan arah yang mendadak atau mendarat dengan posisi yang tidak tepat (Foto : Ist)
Bukan hanya atlet profesional, cedera ACL juga dapat terjadi pada siapa saja, cedera ini terjadi ketika seseorang melakukan perubahan arah yang mendadak atau mendarat dengan posisi yang tidak tepat (Foto : Ist)
A A A

Lutut berperan penting dalam mobilitas pergerakan tubuh. Namun, bagaimana jika lutut mengalami cedera, apalagi cedera berat seperti robeknya ligamen? Tentu akan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari dan rutinitas berolahraga. Oleh karena itu, penanganan yang cepat dan tepat penting untuk dilakukan.

Menurut dr. Christian Silas, Sp. OT, (K) AIFO-K, Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Sports Injury, RS Pondok Indah – Puri Indah, menyebutkan salah satu jenis cedera lutut yang paling sering terjadi adalah cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL), yaitu robekan pada salah satu ligamen utama penyangga sendi lutut. Bukan hanya atlet profesional, cedera ACL juga dapat terjadi pada siapa saja, tak terkecuali pegiat olahraga rekreasional. Cedera ini terjadi ketika seseorang melakukan perubahan arah yang mendadak atau mendarat dengan posisi yang tidak tepat.

Umumnya setiap orang yang aktif bergerak dengan intensitas tinggi memiliki risiko mengalami cedera ACL. Namun, wanita berisiko lebih tinggi dibandingkan pria karena faktor anatomi tubuh. Faktor risiko cedera ACL lainnya antara lain: melakukan olahraga high impact, memiliki riwayat cedera lutut sebelumnya, memiliki otot kaki yang kurang kuat, memiliki tingkat kebugaran tubuh yang buruk,  kurang melakukan pemanasan, dan menggunakan sepatu yang tidak sesuai dengan aktivitas.

Penanganan cedera ACL dapat dilakukan melalui dua metode utama, yaitu non-bedah dan bedah. Pilihan penanganan bergantung pada derajat keparahan cedera, usia, aktivitas, dan kondisi masing-masing pasien. Berikut rincian kedua metode tersebut:

  • Penanganan non-bedah. Penanganan non-bedah tepat dilakukan untuk pasien dengan cedera ringan (derajat 1 atau 2), pasien usia lanjut, atau individu dengan gaya hidup yang kurang aktif. Pilihan penanganan non-bedah ini meliputi; fisioterapi yaitu latihan terarah untuk mengembalikan fleksibilitas dan memperkuat otot sekitar lutut (terutama paha) demi menjaga stabilitas. Alat penyangga (knee brace) yaitu penggunaan brace atau kruk khusus untuk mengurangi beban tumpuan pada sendi lutut. Terapi pengobatan yaitu konsumsi obat pereda nyeri atau antiradang sesuai resep dokter.
  • Penanganan bedah. Tindakan pembedahan atau rekonstruksi ACL dianjurkan untuk pasien dengan robekan total (derajat 3), atlet, orang yang aktif berolahraga, atau pasien dengan kondisi lutut yang tidak stabil. Rekonstruksi ACL dilakukan dengan prosedur artroskopi, yakni pembedahan minimal invasive menggunakan alat teropong kecil untuk mengganti ligamen yang rusak dengan jaringan cangkok (graft), guna mengembalikan stabilitas dan fungsi anatomis sendi lutut.

Sebelum menjalani operasi, pasien biasanya menjalani fisioterapi pra-operasi atau prehabilitasi untuk mempersiapkan kondisi otot dan gerak lutut. Dalam proses rekontruksi, dokter akan mengambil jaringan yang digunakan sebagai cangkok (graft), yang dapat berasal dari jaringan tubuh pasien sendiri (autograft), seperti quadriceps, hamstring, tendon patella, tendon ankle, maupun dari donor luar (allograft). Dokter kemudian membuat saluran kecil (terowongan) pada tulang paha dan tulang kering untuk memasukkan graft baru pada posisi anatomis ACL yang mengalami cedera. Graft kemudian difiksasi atau dikunci pada tulang menggunakan sekrup khusus agar tetap stabil. Setelah operasi, pasien akan menjalani pogram fisioterapi intensif selama 6 hingga 9 bulan (atau lebih) untuk membantu memulihkan fungsi gerak dan kekuatan lutut secara total.

Selain menggunakan graft dari jaringan tubuh sendiri atau donor, terdapat pula pilihan menggunakan artificial ligament, yaitu ligamen buatan berbahan sintetik dari polietilen khusus yang dipakai untuk menggantikan ligamen asli yang mengalami cedera. Artificial ligament dirancang menyerupai kekuatan mekanik ligamen asli manusia untuk menstabilkan sendi dan mengembalikan mobilitas lutut.

Artificial ligament dapat menjadi salah satu pilihan pada kondisi tertentu, terutama ketika pasien membutuhkan pemulihan yang lebih cepat, kondisi jaringan tubuh kurang memadai, atau pada operasi revisi. Beberapa keunggulan dari penggunaan artificial ligament dibandingkan dengan jaringan tubuh pasien antara lain:

  1. Tidak membutuhkan sayatan tambahan untuk pengambilan jaringan, sehingga meminimalkan nyeri dan kelemahan sementara di area jaringan.
  2. Waktu tindakan lebih cepat sekitar 30-60 menit karena tidak ada proses pengambilan jaringan dari tubuh pasien.
  3. Memiliki kekuatan yang lebih tinggi dan konsisten.
  4. Waktu pemulihan lebih cepat.

Pasien perlu menunggu pembengkakan mereda dan rentang gerak lutut kembali normal, yang biasanya sekitar 2–3 minggu setelah cedera. Fisioterapi pra-operasi dapat dilakukan untuk membantu menguatkan otot paha, terutama quadriceps dan hamstring. Pasien juga akan menjalani pemeriksaan medis lengkap, seperti tes darah, rontgen dada, dan MRI. Selain itu, sebelum operasi pasien perlu puasa 6-8 jam dan menghentikan penggunaan obat pengencer darah beberapa hari sebelum operasi.

Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan target yang disesuaikan dengan kondisi pasien dan hasil evaluasi dokter serta fisioterapis.

  • Pemulihan setelah rekonstruksi ACL dengan jaringan sendiri. Pemulihan membutuhkan waktu lebih panjang, yang terdiri dari 5 fase. Setelah fokus pada kontrol nyeri, pemulihan gerak, dan penguatan otot di 12 minggu pertama, pasien baru masuk ke latihan kelincahan pada bulan ke-3 hingga ke-6. Latihan spesifik untuk persiapan kembali berolahraga (return to play) baru boleh dimulai pada bulan ke-6 hingga ke-12 dan seterusnya.
  • Pemulihan setelah rekonstruksi ACL dengan artificial ligament. Pemulihan pasca rekonstruksi ACL dengan artificial ligament berlangsung lebih cepat dan hanya terdiri dari 4 fase. Meski tahapan pada 12 minggu pertama serupa dengan rekonstruksi jaringan sendiri, pasien sudah dapat langsung melakukan latihan kelincahan sekaligus persiapan kembali berolahraga (return to play) jauh lebih awal, yaitu mulai bulan ke-3 hingga ke-6 dan seterusnya.

“Baik pada rekonstruksi dengan jaringan sendiri maupun artificial ligament, waktu kembali berolahraga atau beraktivitas normal kembali ditentukan berdasarkan evaluasi kekuatan dan fungsi lutut oleh dokter spesialis ortopedi dan fisioterapis,” tutup dokter Christian Silas.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Masa Pemulihan Lebih Cepat, Artificial Ligament Jadi Pilihan yang Tepat Saat Alami Cedera ACL Di Lutut
img
Ketombe Tak Kunjung Hilang? Para Dermatolog Jelaskan Pentingnya Menjaga Scalp Barrier di PIT XXI PERDOSKI 2026
img
Strabismus Bukan Hanya Persoalan Kosmetik, Tetapi dapat Mengganggu Penglihatan pada Anak
img
Dukungan untuk Perempuan Indonesia Menjalani Masa Menopause dengan Lebih Tenang dan Percaya Diri