ads

Melihat Kembali Ruang yang Sering Terlupakan di Rumah, Begini Solusi agar Lebih Fungsional dan Mendukung Aktivitas Sehari-hari

Novita Sari - Jumat, 18 September 2026
Ki-ka: Ririn Basuki, Public Relations Manager IKEA Indonesia; Ruth Panjaitan, Home Furnishing & Competence Development Leader IKEA Indonesia; Nadya Cheirin, Brand Development Specialist Jotun Indonesia; dan M. Yusuf Attorik, Interior Design Leader./N
Ki-ka: Ririn Basuki, Public Relations Manager IKEA Indonesia; Ruth Panjaitan, Home Furnishing & Competence Development Leader IKEA Indonesia; Nadya Cheirin, Brand Development Specialist Jotun Indonesia; dan M. Yusuf Attorik, Interior Design Leader./N
A A A

Ketika membicarakan ruang di rumah, perhatian biasanya tertuju pada area yang paling sering terlihat: ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, atau dapur. Namun, ada bagian-bagian rumah yang keberadaannya tak kalah penting meski kerap luput dari perhatian. 

“Area laundry, dapur kotor, gudang, garasi, ruang utilitas, hingga penyimpanan di bawah tangga, merupakan contoh ruang yang mungkin tidak banyak dibicarakan, tetapi menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari,” kata Ririn Basuki, Public Relations Manager IKEA Indonesia saat press event The Forgotten Rooms, Kamis, 17 September 2026 di Jakarta Garden City, Cakung, Jakarta Timur.

Dikatakan Ririn, melalui konsep The Forgotten Rooms, masyarakat diajak untuk melihat kembali ruang-ruang tersebut. “Bukan sekadar dari sisi tampilan, melainkan dari apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya: aktivitas apa yang dilakukan, siapa yang menggunakannya, barang apa yang dibutuhkan, serta bagaimana satu aktivitas berpindah ke aktivitas berikutnya,” ucap Ririn.

“Dari kunjungan kami ke berbagai rumah, kami melihat bahwa masyarakat sebenarnya sudah punya cara sendiri untuk mengatur rumah. Namun, dari situ kami juga bisa melihat bagian-bagian yang masih terasa merepotkan, misalnya ketika seseorang harus bolak-balik mengambil barang, memindahkannya, atau mencari tempat untuk menyimpannya. Di situlah kami mulai memahami bahwa penataan rumah bukan hanya soal tempat untuk menyimpan barang, tetapi juga tentang bagaimana ruang tersebut dapat membantu orang melakukan aktivitasnya,” tambah Ruth Panjaitan selaku Home Furnishing & Competence Development Leader.

Bukan Sekadar Ruang, tetapi Rangkaian Aktivitas

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari cara untuk memahami kehidupan di rumah melalui Home Visit yang mereka lakukan, yang dilengkapi dengan wawasan dari Life at Home Report. “Memahami rumah berarti memahami bagaimana orang menjalani kesehariannya di dalam rumah tersebut,” ucap Ruth.

Sebab, lanjut Ruth, rumah yang secara fisik memiliki jumlah dan jenis ruangan yang sama, belum tentu digunakan dengan cara yang sama.

“Contohnya adalah area laundry. Persoalan di ruang ini tidak selalu berkaitan dengan ukuran ruangan atau mesin cuci. Ada rangkaian aktivitas yang mengikutinya seperti pakaian harus dikumpulkan, dipilah, dicuci, dikeringkan, dilipat, hingga akhirnya disimpan kembali,” jelas Ruth.

Area laundry room menjadi lebih fungsional dan mendukung aktivitas sehari-hari. Foto: Ist
Area laundry room menjadi lebih fungsional dan mendukung aktivitas sehari-hari. Foto: Ist

Ketika setiap tahapan tersebut tidak memiliki alur yang jelas, pakaian dan perlengkapan laundry dapat berpindah-pindah sebelum akhirnya kembali ke tempat semula. Ruangan pun terasa merepotkan bukan semata-mata karena ukurannya kecil, melainkan karena penataannya belum mendukung aktivitas yang berlangsung di dalamnya.

Hal serupa dapat terjadi di dapur kotor, gudang kecil, garasi, atau sudut penyimpanan. Karena itu, daripada langsung bertanya, "Barang ini mau ditaruh di mana?, ada pertanyaan lain yang dapat menjadi titik awal yaitu, “Aktivitas apa yang dilakukan di sini?”.

“Ketika kita melihat barang, biasanya pertanyaannya ‘ini mau ditaruh di mana?’. Padahal kita bisa mulai dari pertanyaan lain: aktivitas apa yang dilakukan di sini, siapa yang menggunakannya, dan barang apa yang paling sering dibutuhkan? Dari situ kita bisa melihat apa yang perlu berada dekat jangkauan, apa yang bisa disimpan lebih jauh, dan ruang mana yang sebenarnya masih bisa digunakan,” timpal M. Yusuf Attorik, Interior Design Leader IKEA Indonesia.

Dengan cara pandang tersebut, penataan rumah tidak lagi semata-mata berbicara mengenai banyaknya tempat penyimpanan, tetapi bagaimana penyimpanan dapat membantu aktivitas berjalan lebih lancar.

Memanfaatkan Ruang yang Sudah Ada

Tidak semua rumah memiliki ruang khusus untuk laundry, gudang, maupun penyimpanan. Di banyak rumah, sejumlah fungsi justru berbagi ruang dengan area lain.

Kondisi ini tidak selalu berarti harus menambah ruangan. Ruang vertikal, dinding, sudut yang belum termanfaatkan, maupun area di sekitar peralatan yang sudah ada, dapat menjadi bagian dari solusi.

Berbagai sistem penyimpanan seperti BROR, IVAR, EKET, dan HYLLIS, dapat disesuaikan dengan kebutuhan ruang, jenis barang, serta kebiasaan penggunanya.

Foto: Ist
Sistem penyimpanan seperti BROR 
dapat disesuaikan dengan kebutuhan ruang, jenis barang, serta kebiasaan penggunanya. Foto: Ist

Namun, memaksimalkan ruang bukan berarti memenuhi setiap sudut dengan barang. Ruang untuk bergerak, mengambil sesuatu, mencuci, melipat, atau melakukan aktivitas lainnya, tetap perlu diperhitungkan.

Kebutuhan penyimpanan juga dapat berubah seiring perubahan kehidupan di rumah. Barang yang digunakan sebuah keluarga hari ini belum tentu sama dengan beberapa tahun mendatang. Karena itu, fleksibilitas menjadi penting agar solusi penyimpanan dapat mengikuti perubahan aktivitas dan kebutuhan.

Pada akhirnya, tidak ada satu formula penataan yang berlaku sama untuk setiap rumah. Solusi yang tepat, berawal dari memahami bagaimana orang hidup di dalam rumahnya sendiri.

Warna Juga Berperan dalam Membentuk Ruang

Selain tata letak dan penyimpanan, warna menjadi elemen lain yang kerap dipertimbangkan dalam menciptakan suasana ruang.

Dalam kesempatan ini hadir pula Nadya Cheirin, Brand Development Specialist Jotun Indonesia yang menyebutkan bahwa pilihan warna dapat membantu membangun karakter tertentu pada sebuah area. Hal ini menjadi menarik ketika diterapkan pada ruang-ruang yang selama ini dianggap sekadar sebagai area utilitas.

“Laundry room, misalnya, sering kali didominasi warna putih atau abu-abu muda. Padahal, ruang tersebut juga dapat dirancang agar terasa lebih personal dan nyaman,” kata Nadya.

“Pemilihan warna tentu kembali pada preferensi masing-masing penghuni. Ada orang yang merasa lebih tenang dengan warna hijau atau biru, sementara yang lain justru mendapatkan energi positif dari warna kuning atau warna-warna hangat,” ungkap Nadya.

Karena itu, pendekatan terhadap warna tidak perlu bersifat seragam.

Dikatakan Nadya, prinsip komposisi 60-30-10 juga dapat digunakan sebagai salah satu referensi sederhana. “Sekitar 60 persen dapat digunakan sebagai warna dominan, 30 persen sebagai warna pendukung, dan 10 persen sebagai aksen. Prinsip tersebut tidak harus diterapkan secara kaku, tetapi dapat membantu ketika ingin mengombinasikan beberapa warna tanpa membuat ruangan terasa terlalu penuh secara visual,” jelasnya.

Finishing juga dapat memengaruhi persepsi terhadap ruang. “Permukaan glossy dapat memantulkan cahaya dan relatif mudah dibersihkan, sementara permukaan matte dapat memberikan tampilan yang lebih lembut dan kontemporer. Pemilihannya dapat disesuaikan dengan karakter ruang, kebutuhan perawatan, dan efek visual yang ingin dicapai,” saran Nadya.

Untuk area yang membutuhkan pembersihan lebih sering, kemudahan perawatan menjadi salah satu pertimbangan penting. Di sisi lain, pada ruang yang ingin terasa lebih tenang dan luas secara visual, pilihan warna serta finishing dapat dipertimbangkan secara bersamaan.

Tidak Harus Mengubah Seluruh Rumah

Melihat kembali forgotten rooms bukan berarti harus melakukan renovasi besar-besaran.

Langkah awalnya justru dapat dimulai dari hal sederhana: memperhatikan aktivitas yang paling sering dilakukan di sebuah ruang dan mencari tahu bagian mana yang terasa merepotkan.

Apakah harus berjalan bolak-balik untuk mengambil barang? Apakah pakaian bersih dan pakaian kotor sering bercampur? Apakah barang yang paling sering digunakan justru disimpan di tempat yang sulit dijangkau? Atau apakah sebuah sudut sebenarnya dapat digunakan untuk penyimpanan tanpa mengganggu pergerakan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu penghuni rumah menemukan kebutuhan yang sebenarnya.

Dari sana, solusi bisa dimulai dari hal kecil—mengubah posisi barang, menambahkan penyimpanan vertikal, mengelompokkan barang berdasarkan aktivitas, memilih sistem penyimpanan yang lebih fleksibel, atau memberikan sentuhan warna yang sesuai dengan karakter penggunanya.

Pendekatan ini juga sejalan dengan visi IKEA untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang. Rumah tidak harus terlihat sempurna untuk dapat berfungsi dengan baik. Yang lebih penting adalah bagaimana ruang di dalamnya dapat mendukung kehidupan orang-orang yang menggunakannya.

Setiap rumah memiliki kebiasaan, kebutuhan, keterbatasan ruang, dan preferensi yang berbeda. Karena itu, solusi penataan pun tidak harus menjadi jawaban yang seragam.

Mungkin sudah waktunya melihat kembali ruang yang selama ini kita anggap biasa saja. Karena bisa jadi, ruang yang paling sering kita abaikan justru merupakan ruang yang paling sering membantu kita menjalani keseharian.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Melihat Kembali Ruang yang Sering Terlupakan di Rumah, Begini Solusi agar Lebih Fungsional dan Mendukung Aktivitas Sehari-hari
img
Dorong Budaya Menulis Tangan, Program Ayo Menulis Jangkau 500 Sekolah di Sumatra 
img
QRIS Makin Dekat dengan Keseharian, Pengguna dan UMKM Bisa Dapat Manfaat Lebih
img
Dukung Akses Pendidikan Inklusif bagi Generasi Pemimpin Masa Depan Lewat Pemberian Beasiswa