Mengenal Acaraki: Sang Barista Jamu yang Membawa Doa dan Kesehatan ke Era Modern
Di era modern ini, kita sangat akrab dengan istilah Barista bagi penyaji kopi. Namun, tahukah kamu bahwa Nusantara memiliki istilah kuno yang tak kalah menarik untuk profesi peracik jamu? Sosok itu disebut Acaraki.
"Istilah Acaraki bukanlah sebutan sembarangan. Ia adalah gelar bagi mereka yang menguasai seni meramu tanaman obat, memahami filosofi kesehatan, hingga menyuguhkan doa dalam setiap tetes ramuan yang dihasilkan," ungkap Jony Yuwono, Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada saat peresmian kafe berkonsep "Jamu with Restaurant" di PIK 2, Jakarta Utara, Rabu (04/02/2026).
Berdasarkan catatan sejarah, istilah Acaraki ditemukan dalam berbagai prasasti kuno, salah satunya Prasasti Madhawapura. Pada masa kerajaan, khususnya di era Majapahit, terdapat daftar profesi masyarakat yang spesifik. Selain Abasana yang merancang busana, muncul nama Acaraki sebagai perancang atau peracik jamu.
Kala itu, jamu bukan sekadar konsumsi rakyat jelata. Jamu adalah minuman kehormatan yang disuguhkan bagi para raja. Sebuah perjamuan agung tidak akan lengkap tanpa kehadiran jamu yang diracik khusus untuk menjaga kewibawaan dan kesehatan sang penguasa.
Filosofi "Jampi Usodo"
Bagi seorang Acaraki, jamu bukan sekadar mencampur rimpang dan akar. Akar kata "Jamu" sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno, yaitu Jampi Usodo. Jampi berarti doa atau mantra. Usodo berarti kesehatan atau kesembuhan.
"Inilah yang membedakan Acaraki dengan profesi peracik minuman biasa. Pada zaman dahulu, seorang Acaraki akan meminta pelanggannya untuk berdoa sebelum meminum ramuan tersebut. Hal ini merupakan bentuk pengakuan bahwa kesembuhan adalah anugerah Tuhan, sementara jamu dan Acaraki hanyalah perantara. Jamu adalah sebuah all-sensory experience, perpaduan antara indra perasa, aroma, dan spiritualitas," terang Jony Yuwono.
Sains dan Kearifan Lokal 31.000 Tahun
Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., Kepala BPOM RI yang turut hadir, juga mengungkap fakta dimana kehebatan Acaraki juga didukung oleh data ilmiah.
"Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature mengungkap fakta bahwa Nusantara telah mengenal praktik medis tingkat tinggi, termasuk amputasi surgikal sukses sejak 31.000 tahun lalu di Kalimantan Timur," ujar Prof. dr. Taruna.
"Keberhasilan operasi purba tersebut membuktikan bahwa sejak zaman prasejarah, nenek moyang kita yaitu para Acaraki purba, telah memahami struktur neurologi dan fungsional otot, serta menggunakan kekayaan hayati (herbal) untuk mencegah infeksi dan mempercepat pemulihan. Indonesia sendiri memiliki 31.000 jenis tumbuhan obat (hampir 80% dari keanekaragaman hayati dunia), sebuah modal alam yang luar biasa yang dikelola oleh para Acaraki," sebut Prof. dr. Taruna.
Kebangkitan Acaraki Modern
Kini, profesi Acaraki sedang menjadi perhatian. Citra jamu yang dahulu dianggap pahit, kuno, dan "cekokin" kini berubah menjadi modern dan estetik.
Acaraki masa kini menggunakan teknik penyeduhan layaknya Barista kopi profesional:
- V60 & Siphon: Digunakan untuk mengekstraksi sari kunyit atau temulawak tanpa ampas, menghasilkan rasa yang lebih "clean" dan ringan.
- French Press: Digunakan untuk mendapatkan kekentalan jamu yang pas bagi penikmat rasa otentik.
- Inovasi Menu: Lahirnya minuman seperti Golden Sparkling (kunyit asam soda) atau Moringa Latte (kelor susu) yang menarik minat generasi muda (gen-Z dan milenial).
Menuju Panggung Dunia
Dengan pengakuan UNESCO terhadap budaya sehat jamu sebagai warisan budaya tak benda, peran Acaraki menjadi semakin krusial. Mereka bukan hanya peracik, melainkan duta budaya yang membawa kekayaan ekonomi kreatif senilai Rp350 triliun ke panggung global.
Menghargai seorang Acaraki berarti menghargai doa, sejarah, dan kekayaan alam yang kita miliki. Jika kopi bisa mendunia, maka jamu—dengan filosofi Jampi Usodo-nya—berpotensi besar untuk menyehatkan dunia melalui sentuhan tangan dingin para Acaraki Indonesia.