Menghidupkan Sejarah dalam Genggaman: Cara Baru Generasi Muda Merayakan Hari Museum Internasional
Pernahkah kamu membayangkan museum bukan lagi sebagai ruang sunyi yang kaku, melainkan sebuah 'lorong waktu' interaktif yang seru?
Ya, menyambut Hari Museum Internasional yang diperingati setiap tanggal 18 Mei, perubahan besar sedang terjadi di dunia digital. Melalui program global bertajuk "Comes Alive", TikTok LIVE mengajak komunitas di seluruh dunia untuk menjelajahi kebudayaan dan edukasi secara langsung (real-time).
Tidak hanya menjadi tempat hiburan, ruang digital kini bertransformasi menjadi jembatan yang mendekatkan sejarah, seni, dan warisan budaya kepada generasi muda dengan cara yang jauh lebih relevan dan menyenangkan.
“Institusi budaya selalu memiliki kekuatan untuk membangkitkan rasa ingin tahu, dan kini berpeluang menjangkau orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu tersebut. Pertumbuhan #MuseumTok juga membuktikan bahwa ketika museum hadir di ruang digital tempat orang sudah aktif berinteraksi, audiens baru pun ikut terhubung. Pada Hari Museum Internasional ini, kemitraan kami yang semakin erat dengan museum di seluruh dunia mencerminkan komitmen untuk membuat partisipasi budaya dapat diakses siapa pun, di mana pun mereka berada,” ujar Karen Kang, Culture and Education Partnerships Lead, TikTok.
Membuka Pintu Museum Terkemuka Dunia Lewat Layar Ponsel
Melalui inisiatif Museums Come Alive, pengguna kini bisa mendapatkan akses eksklusif di balik layar hingga tur virtual sebelum jam operasional pameran resmi dibuka. Beberapa institusi budaya global yang turut berpartisipasi antara lain:
- The Museum of Modern Art (MoMA), New York: Menghadirkan tur interaktif bersama kreator mode dan kurator seni.
- Pokémon Fossil Museum di Field Museum, Chicago: Menyajikan tur eksklusif yang memadukan budaya populer dengan edukasi sains.
- Abdeen Palace Museum, Mesir: Membuka tur eksklusif sebelum jam operasional untuk memperkenalkan kemegahan sejarah Mesir ke audiens global.
Kehadiran tur virtual ini terbukti sukses menjangkau jutaan penonton di seluruh dunia. Format digital ini menegaskan bahwa batasan geografis bukan lagi halangan untuk menikmati keindahan karya seni klasik maupun modern.
Mengintip Cerita Wastra di Museum Tekstil Jakarta
Di Indonesia, perayaan ini diwujudkan melalui aksi nyata berupa kegiatan tur fisik di Museum Tekstil Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh rekan media serta dua kreator konten edukasi sejarah dan budaya terkemuka, yaitu Alma Al Farisi dan Asep Roman Muhtar.
Museum Tekstil Jakarta menjadi contoh nyata bagaimana ruang budaya luring (offline) dan platform digital dapat saling melengkapi. Lewat akun resminya, museum ini aktif membagikan cerita di balik lembaran kain tradisional, menjadikannya lebih mudah diakses oleh anak muda.
Dalam sesi kunjungan tersebut, kedua kreator tidak hanya mengeksplorasi Galeri Batik yang menyimpan koleksi dari berbagai penjuru Nusantara, tetapi juga ikut terjun langsung dalam aktivitas membatik. Melalui goresan malam di atas kain, mereka menyelami lebih dalam proses panjang dan makna filosofis yang terkandung di dalam sehelai wastra tradisional.
Kreator Sebagai 'Kurator Baru' yang Autentik
Berdasarkan data terbaru dari Museum Insights Report 2026, platform digital telah memberikan ruang bagi setiap museum untuk menemukan audiens uniknya sendiri. Di Indonesia sendiri, ketertarikan terhadap sejarah terbilang sangat tinggi di mana 51% pengguna TikTok memiliki minat terhadap konten sejarah, dan 1 dari 3 pengguna tertarik pada topik seputar museum.
Dalam diskusi bersama media pada Kamis, 21 Mei 2026 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, kedua kreator membagikan pandangan mereka mengenai peran teknologi sebagai media edukasi budaya yang efektif:
1. Jurnal Visual dan Ruang Edukasi Dua Arah
Bagi Asep Roman Muhtar (Oman), yang juga merupakan seorang perajin tekstil, platform digital berfungsi sebagai jurnal visual untuk mendokumentasikan proses karyanya.
"Melalui konten video, kita bisa memberikan kontekstualisasi mengenai sebuah karya seni, mulai dari filosofi motif seperti Batik Parang atau Batik Siang Malam, hingga proses pembuatannya. Ini adalah ruang belajar dua arah. Saya tidak hanya membagikan apa yang saya tahu, tetapi juga mendapatkan banyak inspirasi baru dari komunitas di sini," ujar Oman.
Oman juga menekankan pentingnya edukasi ini agar generasi muda bisa membedakan antara kain batik tulis/cap yang autentik dengan kain tekstil bermotif batik buatan mesin (printing), demi mendukung keberlangsungan hidup para pengrajin lokal. Kesuksesan kontennya bahkan berhasil menarik perhatian kurator dari Honolulu Museum of Art untuk mengurasi karya aksesorinya.
2. Pendekatan Storytelling dan Budaya Populer
Sementara itu, Alma Al Farisi menceritakan awal mula ketertarikannya pada wastra Indonesia justru saat ia sedang magang di sebuah lembaga pembiayaan global di Amerika Serikat yang menyimpan koleksi tekstil Asia dari abad ke-19. Pengalaman melihat bagaimana orang asing begitu menghargai batik, memicu kesadarannya untuk mempelajari sejarah bangsanya sendiri secara lebih mendalam.
Dalam membangun kontennya, Alma kerap mengaitkan sejarah masa lalu dengan tren modern agar tetap diminati audiens muda, seperti membahas standar kecantikan kuno dari berbagai suku atau sejarah mode (fashion history).
"Kunci utamanya adalah storytelling. Konten video membantu memberikan konteks yang mungkin terlewat saat kita datang sendiri ke museum. Menariknya lagi, museum kini juga berfungsi sebagai third space atau ruang ketiga yang aman dan seru untuk berkumpul, bertukar pikiran secara offline, atau bahkan sekadar menikmati keindahan arsitekturnya," ungkap Alma.
Menjadikan Museum Sebagai 'Mesin Waktu' yang Menyenangkan
Bagi masyarakat atau anak muda yang belum terbiasa berkunjung ke museum, para kreator sepakat bahwa langkah pertama yang perlu dilakukan sangatlah sederhana: datang saja dulu dan nikmati suasananya.
Museum tidak perlu dianggap sebagai tempat yang berat atau mengintimidasi. Anggaplah museum sebagai sebuah 'mesin waktu' tempat kita bisa memuaskan rasa ingin tahu tentang kehidupan di masa lalu, sekaligus menjadi ruang kreatif untuk membangun memori baru bersama teman maupun keluarga.
Melalui tagar #MuseumTok, sejarah kini terasa jauh lebih hidup, inklusif, dan berada dalam jangkauan genggaman tangan kita semua.