ads

Menjadi Orangtua Mandiri: Memutus Rantai Sandwich Generation Sejak Dini

Novita Sari - Jumat, 06 Februari 2026
Menjadi beban finansial bagi anak di masa tua, tentu bukan impian orangtua mana pun. Foto: Generated AI
Menjadi beban finansial bagi anak di masa tua, tentu bukan impian orangtua mana pun. Foto: Generated AI
A A A

Menjadi beban finansial bagi anak di masa tua, tentu bukan impian orangtua mana pun. Namun, kenyataannya, banyak orangtua di Indonesia yang terpaksa bergantung pada anak karena tidak memiliki persiapan masa pensiun yang matang. Di Indonesia, kesadaran akan hal ini masih tergolong rendah.

Nadia Harsya, seorang Financial Planner, mengungkapkan sebuah fakta yang cukup memprihatinkan. "Baru sekitar 15% orang Indonesia yang benar-benar menyiapkan dana pensiun secara serius," ujarnya. Rendahnya angka ini sering kali dipicu oleh mitos bahwa dana pensiun hanyalah "hak istimewa" bagi mereka yang bekerja di sektor tertentu.

Pensiun Bukan Cuma Milik PNS

Banyak orang menganggap bahwa jaminan hari tua hanya milik Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau karyawan BUMN. Padahal, bagi pekerja swasta, freelancer, hingga pengusaha, menyiapkan dana pensiun adalah tanggung jawab pribadi yang aktif.

Nadia menekankan bahwa kita harus mulai mengubah Active Income menjadi Passive Income. "Konsepnya adalah kita yang aktif bekerja keras sekarang—berangkat pagi, menghadapi deadline, hingga tekanan dari bos—untuk mengumpulkan modal. Modal itulah yang nantinya akan bekerja untuk kita di masa tua," jelasnya.

Passive income ini bisa berbentuk apa saja, mulai dari deposito, obligasi, hingga aset properti seperti kos-kosan yang menghasilkan uang sewa bulanan layaknya "gaji" meskipun kita sudah tidak lagi bekerja.

Mengumpulkan Miliaran dengan Ratusan Ribu

Mendengar angka miliaran rupiah untuk dana pensiun mungkin terdengar mengintimidasi. Namun, kuncinya ada pada waktu.

Nadia memberikan simulasi yang mencerahkan. Jika seseorang membutuhkan biaya hidup sekitar Rp145 juta setahun di masa pensiun, ia membutuhkan dana sekitar Rp3,6 miliar untuk ditempatkan di instrumen dengan imbal hasil tertentu.

Angka Rp3,6 miliar mungkin terlihat besar, tapi jika dipersiapkan sejak usia 25 tahun, bebannya menjadi jauh lebih ringan.

"Kalau angka itu dibagi dalam waktu 30 tahun, setorannya bahkan tidak sampai Rp500 ribu per bulan. Ternyata, untuk mengumpulkan angka tersebut, cicilan bulanannya tidak semenakutkan yang kita bayangkan," kata Nadia.

Memiliki orangtua yang mandiri secara finansial adalah hadiah terbesar bagi seorang anak. Nadia pun berbagi perspektifnya sebagai seorang anak yang merasakan langsung dampak positif dari persiapan orangtuanya.

"Saya merasa sangat tertolong menjadi anak dari orangtua yang punya uang pensiun sendiri. Sebagai anak, tentu kita ingin support, tapi kalau Mama bisa berdikari sendiri, rasanya lega sekali. Kita tidak 'berdekatan' secara finansial dalam artian saling memberatkan,” kata Nadia.

Menurut Nadia, tantangan terbesar dalam menyiapkan dana pensiun bukanlah angkanya, melainkan konsistensi dan kemampuan menahan godaan konsumtif saat ini. Dana yang ada di depan mata sering kali lebih menggoda untuk dibelanjakan daripada disimpan untuk masa depan yang masih puluhan tahun lagi.

Namun, dengan mulai menyisihkan dana kecil secara rutin sejak sekarang, kita sedang membangun jalan agar anak-anak kita kelak bisa berlari mengejar mimpi mereka tanpa harus terbebani oleh kebutuhan hidup kita di masa tua.

Firmansyah, Ketua Pengurus DPLK Avrist dan Nadia Harsya, Financial Planner. Foto: Novi
Firmansyah, Ketua Pengurus DPLK Avrist dan Nadia Harsya, Financial Planner. Foto: Novi

Dalam kesempatan Media Launch Kamis (05/02/2026), di Jakarta, Firmansyah, Ketua Pengurus Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Avrist, mengatakan, kebutuhan masyarakat untuk perencanaan dana pensiun masih sangat tinggi khususnya dari kalangan pekerja informal.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2025 sebanyak 154 juta orang, dengan sekitar 57,80% di antaranya bekerja di sektor informal.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah peserta dana pensiun per Juli 2025 sebesar 29,1 juta orang. Dibanding dengan jumlah angkatan kerja di Indonesia, peserta dana pensiun ini baru sekitar 18,89%.

"Data menunjukkan bahwa pekerja informal termasuk UMKM mendominasi angkatan kerja di Indonesia yakni hampir 60%. Dan hanya 18,89% yang memiliki perlindungan pensiun, artinya masih ada sekitar 81% pekerja yang belum memiliki perlindungan pensiun, dan mereka inilah yang ingin kami jangkau melalui kehadiran SiPURNA by DPLK Avrist,” kata Firmansyah.

Nadia menilai perlunya meningkatkan literasi masyarakat tentang pentingnya perencanaan pensiun sejak dini. Tanpa perencanaan pensiun yang matang, tak sedikit yang mengalami penurunan drastis dalam gaya hidup setelah berhenti bekerja, disisi lain, biaya kebutuhan sehari-hari dan biaya kesehatan justru meningkat seiring bertambahnya usia.

“Disinilah perlunya layanan yang dapat menjangkau langsung setiap individu untuk merencanakan pensiunnya sejak dini. Diharapkan dengan platform tersebut, mempermudah masyarakat mengakses perencanaan pensiun dimana saja dan kapan saja karena berbasis digital,” ucap Nadia.

Nadia juga menambahkan pentingnya membangun ekosistem dana pensiun melalui edukasi, akses mudah, dan terpercaya, terutama bagi pekerja sektor informal dan UMKM.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Menjadi Orangtua Mandiri: Memutus Rantai Sandwich Generation Sejak Dini
img
Safer Internet Day 2026: Pentingnya Resiliensi Digital dan Ruang Aman bagi Anak dan Generasi Muda
img
Life Hacks Kelola Rumah Tetap Nyaman ala Ibu Modern Masa Kini
img
5 Tips Kirim Hampers Lebaran Agar Tetap Cepat dan Aman