Merawat Kesehatan Ginjal, Menjaga Bumi: Pesan Penting World Kidney Day 2026 untuk Keluarga Indonesia
Setiap tahun, Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) diperingati setiap hari Kamis di minggu kedua bulan Maret, yang tepat jatuh pada hari ini. Hari Ginjal Sedunia menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan ginjal untuk masa depan yang lebih sehat: bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bumi yang kita tempati.
Di Indonesia, hari penting tersebut juga tidak dilewatkan. Dalam rangka memperingati World Kidney Day 2026, para pakar kesehatan, pemangku kepentingan lintas sektor, serta perwakilan komunitas pasien ginjal berkumpul pada Rabu (11/3) di Hotel Borobudur, Jakarta, untuk mengangkat tema global “Caring for People, Protecting the Planet” (Merawat Kesehatan Ginjal, Melindungi Bumi). Dialog kesehatan ini bertujuan untuk mengedukasi publik bahwa perlindungan terhadap bumi melalui praktik hidup berkelanjutan merupakan salah satu langkah preventif yang signifikan dalam menekan angka penyakit ginjal kronis di masa depan.
Data tahun 2017 menunjukkan bahwa lebih dari 800 juta orang di dunia mengalami penyakit ginjal. Diproyeksikan bahwa pada tahun 2040 penyakit ginjal akan menjadi penyebab kematian nomor lima di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ginjal merupakan masalah kesehatan yang sangat besar.
Fokus pada Pencegahan
Mewakili Menteri Kesehatan, dr. Andi Saguni, MA, selaku Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI mengawali acara dengan menekankan urgensi transformasi sistem kesehatan nasional dalam menghadapi tantangan penyakit ginjal, serta pentingnya menyelaraskan kebijakan pengendalian penyakit dengan komitmen global untuk menciptakan layanan kesehatan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.
“Beban penyakit ginjal di Indonesia terus meningkat. Di tahun 2025, penyakit ginjal menjadi penyebab beban biaya kedua terbesar dalam program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) setelah penyakit jantung. Sebagian besar pasien baru tertangani di rumah sakit, padahal jika deteksi dini diperkuat di layanan primer seperti puskesmas, kita bisa mencegah banyak kasus berat dan menekan biaya,” jelas dr. Andi.
Ia menyoroti perlunya transformasi sistem kesehatan yang tak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan serta pemerataan layanan di seluruh pelosok negeri. “Kita sudah memasukkan skrining ginjal dalam program Cek Kesehatan Gratis, bagian dari quick win Presiden Prabowo. Skrining ini utamanya dilakukan di puskesmas, sebagai langkah penguatan layanan kesehatan primer,” katanya
dr. Andi juga menambahkan bahwa salah satu tantangan besar adalah ketersediaan layanan hemodialisis di daerah terpencil. “Oleh karena itu, pembangunan rumah sakit baru harus memastikan adanya fasilitas hemodialisis. Pemerataan SDM kesehatan, khususnya spesialis nefrologi, juga perlu menjadi perhatian agar semua warga punya akses layanan terbaik,” imbaunya.
Deteksi Dini dan Green Dialysis: “Ginjal Sehat, Bumi Sehat”
Selanjutnya, sesi pendalaman materi menghadirkan Dr. dr. Pringgodigdo Nugroho, Sp.PD-KGH, selaku Ketua Umum PB PERNEFRI (Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia) yang memaparkan topik strategis mengenai “Deteksi Dini hingga Transplantasi: Masa Depan Penanganan Penyakit Ginjal yang Berkelanjutan.”
Ia menegaskan pentingnya deteksi dini dan literasi kesehatan sebagai fondasi utama dalam menekan laju progresivitas penyakit ginjal di Indonesia. “Penyakit ginjal sering disebut silent disease karena pada tahap awal tidak bergejala. Banyak pasien baru sadar saat sudah memasuki stadium lanjut atau akhir. Gejala tersebut misalnya bengkak pada tubuh, mudah lelah, serta penurunan nafsu makan. Ini merupakan beberapa gejala yang sering muncul pada penyakit ginjal tahap lanjut, yang berarti kondisinya sudah terlambat. Padahal, dengan deteksi dini sederhana seperti cek tekanan darah, indeks massa tubuh, tes urin, dan darah, kita bisa memperlambat progresi penyakit ginjal,” jelasnya.
Secara umum penyakit ginjal dibagi menjadi dua, yaitu penyakit ginjal akut dan penyakit ginjal kronik. Penyakit ginjal akut terjadi secara mendadak, biasanya dalam beberapa hari. Sedangkan penyakit ginjal kronik berlangsung dalam jangka panjang. “Jika sudah terjadi gagal ginjal tahap akhir, maka kondisi tersebut termasuk dalam penyakit ginjal kronik. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Bisa karena aliran darah ke ginjal yang terganggu, bisa juga karena kerusakan pada jaringan ginjal itu sendiri akibat obat-obatan atau penyakit tertentu, atau bisa juga karena adanya sumbatan pada aliran urin dari ginjal,” ungkap Dr. Pringgodigdo.
Dr. Pringgodigdo juga mengingatkan, “Faktor risiko utama penyakit ginjal adalah diabetes, hipertensi, dan konsumsi obat pereda nyeri tanpa pengawasan dokter. Risiko lain adalah kegemukan, usia lanjut, dan riwayat keluarga. Semua faktor ini bisa dimodifikasi dengan pola hidup sehat.”
Ia mengatakan bahwa penyakit ginjal kronik merupakan penyebab kematian yang cukup tinggi serta dapat menurunkan kualitas hidup dan aktivitas pasien. Sayangnya, di Indonesia kasus penyakit ginjal juga terus meningkat. “Dalam terapi penyakit ginjal tahap akhir terdapat dua jenis terapi pengganti ginjal, yaitu dialisis (yang terbagi menjadi hemodialisis dan dialisis peritoneal) serta transplantasi ginjal," katanya.
Dr. Pringgodigdo juga membahas pentingnya menjaga lingkungan. Setiap tindakan medis seperti hemodialisis ternyata menghasilkan limbah dan jejak karbon yang cukup besar. Maka, inovasi Green Dialysis dan perawatan ginjal yang ramah lingkungan jadi perhatian utama. “Setiap sesi hemodialisis menghasilkan limbah medis signifikan dan jejak karbon yang besar. Konsep green dialysis harus menjadi masa depan pelayanan ginjal: efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Selain itu, dialisis peritoneal juga dapat menjadi alternatif dengan dampak lingkungan lebih rendah. Transplantasi ginjal memang merupakan terapi definitif yang mampu mengembalikan kualitas hidup pasien. Namun, tantangan ketersediaan donor dan infrastruktur tetap butuh solusi bersama,” tambahnya.
Pentingnya perawatan ginjal yang ramah lingkungan juga ditegaskan oleh dr. Mohammad Fiqri Qoidhafy, selaku Koordinator Kardiovaskular, Tim Kerja Gangguan Paru, Otak, dan Kardiovaskular Kementerian Kesehatan RI. Ia menekankan bahwa transformasi sistem kesehatan saat ini tidak hanya berorientasi pada kualitas klinis, tetapi juga secara aktif mendorong implementasi operasional layanan kesehatan yang lebih ramah lingkungan, guna meminimalkan dampak ekologis dari proses medis yang dijalankan.
Kampanye CERDIK dan PATUH
Dr. Pringgodigdo selanjutnya mengajak masyarakat mengenali dan menjalankan pola hidup sehat dengan kampanye CERDIK (Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin olahraga, Diet seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres) dan PATUH (Periksa kesehatan rutin, Atasi penyakit tepat, Tetap diet sehat, Upayakan aktivitas fisik, Hindari rokok dan alkohol). “Menjaga ginjal berarti juga menjaga bumi untuk masa depan anak-anak kita,” ujar Dr. Pringgodigdo.
Pentingnya Literasi Kesehatan
Dalam kesempatan yang sama, Komjen Pol (Purn) Drs. Suhardi Alius, M.H., Ketua Umum NKF (National Kidney Foundation) Indonesia, menekankan pentingnya literasi kesehatan masyarakat. “Meningkatkan kesadaran kolektif adalah kunci utama menekan prevalensi penyakit ginjal. Kesehatan ginjal sangat bergantung pada kualitas lingkungan hidup yang kita jaga,” katanya.
drg. Tiffany Monica dari BPJS Kesehatan menyoroti aspek pembiayaan. “Beban ekonomi akibat gagal ginjal sangat tinggi. Kita harus bergeser ke strategi preventif agar pembiayaan kesehatan tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Hadir pula Supriyanto, Ketua YKCGI (Ketua Umum Yayasan Komunitas Cangkok Ginjal Indonesia) yang membagikan kisah inspiratif tentang pentingnya transplantasi ginjal sebagai investasi kehidupan dan perubahan pola pikir pasien.
Sesi diskusi juga menghadirkan inovasi dari dunia industri kesehatan. Cokhy Indira Fasha, MBA dari PT. Fresenius Medical Care Indonesia memperkenalkan teknologi “Green Dialysis” yang membuat proses hemodialisis lebih efisien dan ramah lingkungan, membantu mengurangi jejak karbon di rumah sakit. Sementara itu, Roy Priadi dari PT. Etana Biotechnologies Indonesia menekankan pentingnya pengembangan inovasi farmasi untuk terapi penyakit ginjal yang lebih aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa peran sektor swasta juga sangat penting dalam menciptakan layanan kesehatan yang lebih baik untuk pasien sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
World Kidney Day 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor: pemerintah, komunitas, industri, dan masyarakat. Upaya deteksi dini, edukasi, dan inovasi teknologi menjadi langkah konkret untuk merawat ginjal dan melindungi bumi.
Seperti yang disampaikan oleh dr. Andi Sugani dari Kemenkes RI, “Menjaga kesehatan ginjal adalah tugas bersama. Dengan kerja sama semua pihak, kita bisa menurunkan angka penyakit ginjal dan menjaga bumi untuk generasi mendatang.”
Yuk, Moms, mulai sekarang rawat kesehatan ginjal diri sendiri dan keluarga. Pastikan cukup minum air putih, batasi asupan GGL (Gula, Garam, Lemak), hindari mengonsumsi obat sembarangan, lakukan olahraga atau gerak teratur, dan jauhi rokok. Dengan merawat kesehatan ginjal sejak dini, kita juga ikut merawat bumi: ginjal sehat, bumi pun sehat!