ads

Si Kecil Tumbuh Maksimal Lewat Inovasi Nutrisi dan Sains, Seperti Apa?

Novita Sari - Jumat, 09 Januari 2026
Joris Bernard, CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia membuka talkshow Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi, Kamis, 08 Januari 2026 di Jakarta. Foto: Novi
Joris Bernard, CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia membuka talkshow Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi, Kamis, 08 Januari 2026 di Jakarta. Foto: Novi
A A A

Ternyata, tantangan kesehatan anak-anak di Indonesia masih lumayan besar, Moms. Padahal, masalah seperti kurang gizi, akses ke dokter, sampai edukasi di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) itu sangat penting untuk masa depan si kecil.

Pemerintah sendiri sedang giat melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka stunting sampai 14,2% di tahun 2029 nanti. Sebut saja program MBG (Makan Bergizi Gratis) ke sekolah-sekolah.

Tak mau tinggal diam, Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia berkomitmen untuk terus mengedukasi masyarakat, salah satunya lewat gelaran talkshow bertema “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” pada Kamis, 08 Januari 2026 di Jakarta yang dihadiri Momfluencer, para ahli, dokter, sampai bidan. Mereka ingin memberikan solusi nyata untuk kesehatan anak-anak Indonesia lewat riset yang benar-benar canggih.

“Kami tidak main-main dengan yang namanya kesehatan Ibu dan Anak. Tak hanya bikin produk yang bagus, kami juga peduli pada karyawan kami (yang mayoritas juga orangtua). Contohnya, ada cuti melahirkan 6 bulan, hingga program mental health. Kalau internalnya sehat, pasti solusi nutrisi yang dikasih buat kita juga makin oke karena dibuat dengan hati dan ilmu yang kuat,” terang Joris Bernard, CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam kata sambutannya.

Para dokter mengingatkan tentang pentingnya kesehatan pencernaan (gut health) dan pencegahan anemia. Sebab, jika pencernaan anak sehat, penyerapan nutrisinya jadi maksimal, dan ini kunci untuk cegah stunting.

Dr. Ray Wagiu, Medical and Scientific Affairs Director Danone SN Indonesia. Foto: Novi
Dr. Ray Wagiu, Medical and Scientific Affairs Director Danone SN Indonesia. Foto: Novi

“Selama tahun 2025, ada lebih dari 46 publikasi ilmiah kami yang membahas berbagai isu kesehatan dengan pilar fokus penelitian meliputi penyakit terkait malnutrisi, anemia, stunting, kesehatan saluran cerna, alergi dan imunitas, prematuritas, laktasi, serta menua dengan sehat. Temuan-temuan ilmiah ini telah dipresentasikan dan didiskusikan secara aktif di berbagai forum ilmiah nasional dan internasional, termasuk konferensi seperti ESPGHAN dan ISPOR. Melalui pendekatan berbasis sains dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan, akademisi, serta asosiasi profesi, berkontribusi secara ilmiah melalui inovasi penelitian yang berkelanjutan dan berdampak,” ungkap Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH selaku Medical and Scientific Affairs Director.

Sementara, Presiden Indonesian Nutrition Association (INA), Dr. dr. Luciana Sutanto, MS. SpGK (K), mengatakan bahwa penanganan anemia perlu didukung oleh bukti ilmiah yang relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia.

“Kolaborasi riset menjadi penting untuk menghasilkan pemahaman yang lebih kuat mengenai intervensi nutrisi yang dapat membantu meningkatkan kecukupan zat besi dan mendukung pertumbuhan anak secara optimal,” kata Luciana.

Dari sisi pelayanan kesehatan, bidan memegang peran strategis sebagai garda terdepan dalam mendampingi ibu dan anak, termasuk dalam upaya pencegahan sejak dini. Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Dr. Ade Jubaedah, S.SiT, MM, MKM, menyoroti peran edukatif bidan dalam praktik sehari-hari.

“Bidan memiliki peran penting dalam edukasi gizi seimbang kepada ibu hamil, ibu menyusui dan anak serta mendorong kepatuhan konsumsi suplemen zat besi sebagai langkah pencegahan anemia. Penguatan kapasitas bidan menjadi kunci untuk menciptakan dampak kesehatan masyarakat yang berkelanjutan, salah satunya melalui program kolaboratif Bidan Generasi Maju yang mendorong peningkatan kompetensi Bidan dan berbagi praktik baik di tingkat komunitas,” ujar Ade.

Lebih lanjut, kesehatan saluran cerna yang optimal juga memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan anak secara menyeluruh. Apabila tantangan seperti anemia dan gangguan saluran cerna tidak ditangani sejak dini, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap masalah gizi kronis, termasuk stunting.

Stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan pendekatan terpadu, karena tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan kognitif dan kualitas kesehatan dalam jangka panjang.

Kolaborasi pentahelix demi kesehatan anak-anak Indonesia. Foto: Novi
Kolaborasi pentahelix demi kesehatan anak-anak Indonesia. Foto: Novi

Dokter Spesialis Gizi Klinik, Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), menjelaskan bahwa nutrisi yang lengkap dan seimbang berperan penting dalam mendukung kesehatan saluran cerna sebagai fondasi tumbuh kembang anak.

“Keragaman diet dan asupan serat yang cukup, menjadi kunci untuk mendukung mikrobiota usus, proses pencernaan, dan penyerapan nutrisi secara optimal. Asupan nutrisi yang seimbang tidak hanya mencegah gangguan saluran cerna, tetapi juga mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif pada anak, termasuk pencegahan stunting. Sayangnya, penerapan strategi nutrisi di masyarakat, keterbatasan akses masyarakat pedesaan dan kebiasaan pangan rendah serat menjadi hambatan utama. Sehingga dibutuhkan riset lokal dan kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, serta industri untuk menghasilkan solusi yang efektif dan berkelanjutan,” ujar dr. Diana.

Sementara itu, dari perspektif komunitas, stunting masih menjadi tantangan nyata yang banyak ditemui di lapangan. Direktur Eksekutif Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII), dr. Agustini E. Raintung, menyampaikan bahwa stunting bukan hanya persoalan pertumbuhan fisik, tetapi juga menghambat perkembangan otak anak, yang berdampak pada kemampuan belajar, intelektual, dan produktivitas ekonomi di masa depan.

“Penyebab langsungnya antara lain asupan gizi yang tidak memadai dan infeksi berulang akibat pola pengasuhan yang kurang tepat, serta keterbatasan akses terhadap pangan, air bersih, sanitasi, dan layanan kesehatan. Untuk mencegah stunting, diperlukan pendekatan konvergensi pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan melalui intervensi spesifik dan intervensi sensitif seperti edukasi gizi, kesehatan, pola asuh, serta ketahanan pangan dan perbaikan sanitasi. Semua ini harus dilakukan melalui kolaborasi pentahelix agar upaya pencegahan berjalan efektif,” ujar dr. Agustini.

Menjawab tantangan kesehatan yang kompleks tersebut, riset dan publikasi ilmiah memegang peran penting dalam memperkuat pemahaman serta merancang intervensi gizi yang tepat sasaran. Pendekatan berbasis bukti menjadi kunci untuk memastikan program kesehatan dan inovasi nutrisi yang dikembangkan relevan dengan kebutuhan keluarga Indonesia.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Si Kecil Tumbuh Maksimal Lewat Inovasi Nutrisi dan Sains, Seperti Apa?
img
Penguatan Partisipasi Kesehatan Indonesia dengan 9 Pilar Solusi dan 5 Instrumen
img
Teknologi Radioterapi Presisi Tinggi Buka Harapan Baru Bagi Pasien Kanker Serviks
img
Pentingnya Deteksi dan Penanganan Katarak Sejak Dini, Begini Pengalaman Kak Seto Jalani Operasi Katarak