Siapkan Desainer Muda Hadapi Industri Melalui Future Fashion Designer
Selama lebih dari dua dekade, JF3 terus menghadirkan berbagai inisiatif yang berkembang mengikuti kebutuhan industri fashion Indonesia. Tidak hanya melalui presentasi karya di atas runway, juga berkomitmen membangun ekosistem yang mendukung lahirnya generasi baru pelaku industri fashion yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Di tengah berkembangnya industri fashion Indonesia, kreativitas tetap menjadi fondasi yang penting. Namun, kreativitas saja tidak cukup. Industri juga membutuhkan desainer yang mampu menerjemahkan ide menjadi karya nyata melalui kemampuan teknis, pemahaman proses, pengambilan keputusan, serta kualitas eksekusi yang baik. Berangkat dari kebutuhan tersebut, JF3 menghadirkan Future Fashion Designer (FFD), sebuah program yang dirancang untuk menguji sekaligus mengembangkan kemampuan desainer muda melalui pengalaman yang menyerupai situasi industri sesungguhnya.
Sejalan dengan tema Recrafted: Shaping the Future, FFD menjadi salah satu langkah nyata dalam mempersiapkan generasi penerus fashion Indonesia. Tidak hanya sebagai kreator, tetapi juga sebagai profesional yang memiliki kedisiplinan, daya tahan, kemampuan teknis, dan kesiapan untuk berkembang di industri.
“FFD bukan sekadar kompetisi desain. Program ini kami rancang untuk menguji bagaimana sebuah ide dapat diwujudkan menjadi karya yang nyata. Untuk memajukan industri fashion Indonesia, kita membutuhkan desainer yang tidak hanya mampu menciptakan konsep, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengeksekusinya dengan baik. Kemampuan tersebut hanya dapat dibangun melalui pengalaman, tantangan, dan proses yang nyata,” ujar Thresia Mareta, Advisor JF3.
Bekerja sama dengan Susan Budihardjo, Fashion Forward Institute, FFD ditujukan bagi lulusan sekolah fashion dari berbagai daerah di Indonesia. Dari puluhan pendaftar yang mengikuti proses seleksi, delapan peserta terbaik terpilih untuk mengikuti program intensif yang berlangsung pada 12–26 Mei 2026. Dalam waktu hanya 14 hari, para peserta ditantang menyelesaikan lima koleksi berdasarkan lima brief yang berbeda. Mereka harus melalui seluruh proses yang lazim dihadapi seorang fashion designer, mulai dari riset konsep, pemilihan material, penyusunan anggaran, pembuatan pola, proses produksi, styling, hingga presentasi di hadapan panel juri.
Ada lima tantangan berbeda yang dihadirkan, yaitu Prototype, The Curve, Re'Heritage, Multifunction, dan Opposite. Masing-masing dirancang untuk menguji aspek yang berbeda, mulai dari eksplorasi identitas desain, interpretasi budaya, inovasi, kemampuan beradaptasi, hingga penyelesaian masalah secara kreatif.
Lebih dari sekadar kompetisi, FFD merupakan simulasi dunia kerja yang menuntut peserta untuk berpikir, bekerja, dan mengambil keputusan layaknya seorang profesional di industri fashion. Penilaian tidak hanya berfokus pada kreativitas, tetapi juga mencakup kualitas produksi, kemampuan presentasi, pengelolaan proses kerja, serta konsistensi dalam menjawab setiap tantangan.
Sepanjang program, peserta memperoleh penilaian dan masukan langsung dari 12 profesional yang mewakili berbagai bidang dalam industri fashion, mulai dari desainer, pemilik brand, pendidik, jurnalis, stylist, show director, hingga praktisi branding. Panel juri terdiri dari Thresia Mareta, Susan Budihardjo, Rinaldy A. Yunardi, Hian Tjen, Caren Delano, Sofie, Yongki Komaladi, Sarie Febriane, Didi Budiardjo, Richard Hartono, Ary Juwono dan Djafar.
Dari delapan peserta yang mengikuti program sejak awal, lima desainer berhasil mencapai tahap final dan mempresentasikan koleksi akhir mereka melalui trunk show di hadapan panel juri. Kelima finalis tersebut adalah Arron Bryan, Agatha Lievia, Azzahra Najmanisa, Nabila Karimah, dan Tashannie Abigail Loekman.
Setelah melalui lima tantangan dan proses penjurian, Arron Bryan, desainer muda asal Jayapura, Papua, berhasil meraih gelar Future Fashion Designer 2026. Koleksinya berangkat dari eksplorasi budaya Papua yang diterjemahkan ke dalam pendekatan kontemporer. Di antara para finalis, Arron dinilai paling konsisten dalam menjawab setiap tantangan, dengan keseimbangan antara kreativitas, kemampuan teknis, kualitas eksekusi, dan kesiapan produksi.
Sebagai pemenang, Arron memperoleh hadiah sebesar Rp50 juta. Selain itu, seluruh finalis juga mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karya mereka di runway JF3 Fashion Festival 2026, berdampingan dengan desainer Indonesia maupun internasional. “Regenerasi talenta merupakan bagian penting dari masa depan industri fashion Indonesia. Melalui Future Fashion Designer, kami ingin menciptakan ruang bagi para desainer muda untuk menguji kemampuan mereka secara nyata, membangun kepercayaan diri, dan mempersiapkan diri menghadapi industri yang terus berkembang," ujar Soegianto Nagaria, Chairman JF3 Fashion Festival.
Keberhasilan Arron menunjukkan bahwa talenta fashion Indonesia tidak kekurangan kreativitas. Yang dibutuhkan adalah akses, pembinaan, serta kesempatan untuk mengasah kemampuan dalam situasi yang nyata. Melalui ajang ini diharapkan semakin banyak desainer muda Indonesia yang tidak hanya memiliki ide yang kuat, tetapi juga kemampuan untuk mewujudkannya menjadi karya yang siap bersaing di industri.