ads

Tradipop: Saat Napas Tradisi Bertemu Denyut Populer di Ksatria Fest 3.0

Novita Sari - Rabu, 17 Juni 2026
Ajang kompetisi tari tradipop tingkat nasional ini siap menghentak ruang-ruang seni terkemuka di Jakarta mulai 17 Juni hingga 4 Juli 2026. Foto: Novi
Ajang kompetisi tari tradipop tingkat nasional ini siap menghentak ruang-ruang seni terkemuka di Jakarta mulai 17 Juni hingga 4 Juli 2026. Foto: Novi
A A A

Pernahkah kamu merinding saat melihat sekelompok anak muda bergerak lincah di atas panggung, membawakan gerak tari yang terasa sangat akrab dengan budaya lokal kita, namun dikemas dengan visual yang begitu modern, dinamis, dan eye-catching? Jika belum, bersiaplah untuk terpukau.

Seni tradisi sering kali dianalogikan seperti museum—indah, aduhai, namun kerap kali hanya dikunjungi saat kita merasa butuh. Padahal, agar tetap hidup, budaya tidak boleh sekadar menjadi benda mati yang dipajang. Budaya harus melaju bersama zaman. Berangkat dari keresahan itulah, Swargaloka kembali meluncurkan gelaran ikonisnya: Ksatria Fest 3.0.

Ajang kompetisi tari tradipop tingkat nasional ini siap menghentak ruang-ruang seni terkemuka di Jakarta mulai 17 Juni hingga 4 Juli 2026. Penyelenggaraan tahun ini terasa jauh lebih emosional dan megah karena bertepatan dengan momentum perayaan 33 tahun Swargaloka dalam menghidupi seni pertunjukan Indonesia.

“Saya sebenarnya sangat terharu dan bersyukur ya di tengah situasi seperti ini teman-teman media masih merasa peduli terhadap budaya. Artinya, hadir untuk mengapresiasi perjalanan kami. Jadi bagi kami adalah seni tradisi harus berjalan sesuai dengan laju perkembangan zaman. Jadi dia harus lestari dan berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman dan terus kita harus punya rasa memiliki dan harus mempunyai kekuatan untuk mengkreasi, mengkreasikan seni budaya agar tidak tertinggal oleh generasi yang akan datang,” tutur Suryandoro, Pendiri Swargaloka saat konferensi pers, Rabu, 17 Juni 2026 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

Foto: Novi
Ki-ka: Siko Setyanto, Perwakilan Dewan Juri Ksatria Fest 3.0; Bathara Saverigadi Dewandoro, Creative Director sekaligus inisiator Ksatria Fest; Suryandoro, Pendiri Swargaloka; dan MC. Foto: Novi

Apa Itu "Tradipop"?

Istilah "tradipop" mungkin masih terdengar segar dan unik di telinga kita. Dicetuskan dari obrolan kreatif antara para koreografer, konsep ini lahir sebagai jawaban atas kebutuhan industri kreatif modern.

“Dalam banyak kebutuhan industri, seperti televisi atau media digital, tari tradisi sering kali dipotong secara tidak utuh karena keterbatasan durasi. Tradipop hadir sebagai jawaban—sebuah format tari yang sejak awal dirancang singkat, eye-catching, dan memiliki kekuatan visual,” ujar Bathara Saverigadi Dewandoro, Creative Director sekaligus inisiator Ksatria Fest.

Namun, Bathara menegaskan bahwa tradipop hadir bukan untuk menggeser atau menggantikan pakem tari tradisi yang sudah ada. Sebaliknya, gaya yang segar ini menjadi pintu masuk—sebuah umpan estetis—agar generasi muda yang awam bisa jatuh cinta terlebih dahulu, sebelum akhirnya tergerak untuk menyelami kekayaan budaya kita yang jauh lebih dalam.

Bukan Sekadar Menang, Ini Soal Melahirkan Idola Baru

Tantangan anak muda hari ini bukanlah kekurangan media, melainkan bagaimana tetap konsisten di tengah gempuran konten instan. Di era digital, semua orang ingin terlihat keren dengan cepat. Melalui ajang ini, para mentor ingin mengingatkan kembali bahwa di dunia nyata, tidak ada yang benar-benar instan. Wow factor di atas panggung hanya bisa lahir dari keringat dan disiplin latihan yang konsisten.

Menariknya, kompetisi ini tidak membiarkan para pemenangnya cepat berpuas diri setelah memegang piala. Ajang ini dirancang untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan. Para pemenang nantinya akan dianugerahi gelar kehormatan yang membawa tanggung jawab moral:

  • Wira Ksatria Tari Indonesia (Kategori Solo)
  • Garda Ksatria Tari Indonesia (Kategori Duet)
  • Laskar Ksatria Tari Indonesia (Kategori Kelompok)

Gelar ini menjadi simbol bahwa mereka adalah role model sekaligus ikon baru yang siap menginspirasi lingkungan sekitar dan membuktikan seberapa hebat "tekstur tubuh" penari Nusantara saat bersanding di panggung modern.

Ksatria Fest 3.0 juga melibatkan 100 voters dari masyarakat umum. Foto: Novi
Ksatria Fest 3.0 juga melibatkan 100 voters dari masyarakat umum. Foto: Novi

Keterlibatan Publik yang Inklusif: Suara Kamu Ikut Menentukan!

Ada yang sangat berbeda pada perhelatan tahun ini. Jika tahun lalu hanya 5 besar yang diboyong ke Jakarta, kali ini 15 finalis kelompok dari berbagai penjuru Nusantara—mulai dari Surakarta, Pontianak, Gorontalo, hingga Belitung—akan diterbangkan langsung ke ibu kota untuk berkompetisi secara tatap muka.

Sistem penilaian pun dibuat lebih inklusif dan transparan. Tidak hanya bergantung pada keputusan dewan juri profesional yang menilai aspek teknis, Ksatria Fest 3.0 juga melibatkan 100 voters dari masyarakat umum. Siapa pun bisa terlibat—mulai dari teman-teman media, pencinta tari, hingga masyarakat awam. Langkah strategis ini diambil agar karya-karya yang lahir memiliki daya hubung yang kuat dan relevan dengan penontonnya.

Rangkaian acara akan tersebar di beberapa titik nadi seni Jakarta, seperti Galeri Indonesia Kaya, Ruang Latihan FSP IKJ, Teater Usmar Ismail, hingga kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM). Puncaknya, perebutan gelar juara kelompok akan digelar megah di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 4 Juli 2026.

15 Semifinalis Laskar Ksatria Tari Indonesia yang Siap Mengguncang Jakarta:

  1. Akusara Art (Surakarta)
  2. Soca Niskala Sunda (Bandung)
  3. Bejani Art and Dance Studio (Ponorogo)
  4. Sanggar Tari Sirih Besa (Batam)
  5. Centaurus (Sidoarjo)
  6. Arunika Dance Crew (Pontianak)
  7. Antari’kham (Lampung)
  8. Sanggar Seni Dharma Budaya (Pasuruan)
  9. Pancakusuma (Rumah Budaya Langen Kusuma) (Blitar)
  10. Ayu Langgeng Management (Lumajang)
  11. Efek Samping Jaipongan (Sukabumi)
  12. Sanggar Patih Gumantar (Mempawah)
  13. Sanggar Hulondhalangi Entertainment (Gorontalo)
  14. Terrafic (Yogyakarta)
  15. Pelita Budaya (Belitung)
Tradipop Gatot Kaca. Foto Novi
Tradipop Gatot Kaca. Foto Novi

“Tantangan penari muda hari ini adalah jangan takut menggunakan segala instrumen penting, misalnya sosial media. Jangan takut 5 detik, 10 detikmu akan di-scroll orang. Jangan takut. Berlatihlah, berkumpullah bersama Ksatria, Swargaloka, semua hal yang positif di hidup ini untuk membangun dirimu, untuk memberikan konsep bagaimana kamu tuh berharga bersama ketradisianmu, bersama lingkunganmu yang baik, bersama kelompokmu. Berdamailah dengan kerumitan kehidupan ini, jangan khawatir atas potensi tidak disukai atau disukai, lakukan saja perjuangan untuk menjadi penampil yang keren di atas panggung sini. Harus berani dan mau berproses. Itu sesuai konsep Ksatria,” tandas Siko Setyanto, Perwakilan Dewan Juri Ksatria Fest 3.0.

Mari kita bersama-sama memberikan ruang, merangkul, dan mengapresiasi keberanian para seniman muda ini. Saatnya melihat tradisi bergerak bebas, bernapas lega, dan tampil memikat dalam balutan tren masa kini. Sampai jumpa di depan panggung!

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Tradipop: Saat Napas Tradisi Bertemu Denyut Populer di Ksatria Fest 3.0
img
Self Love Tak Harus Rumit, Kepercayaan Diri Bisa Dimulai dari Rutinitas Mandi
img
Cantikmu, Ceritamu: Saatnya Perempuan Indonesia Berani Merayakan Keberagaman dan Menemukan Versi Terbaik Diri Sendiri
img
Kembali Hadir, Eco Echo Trail Run 2026 Ajak 1.000 Pelari Menjaga “Rumah Terakhir” Gajah Sumatra