ads

World Food Day 2026: Bingung Membaca Label Gizi? Ini yang Perlu Diperhatikan

Novita Sari - Jumat, 16 Oktober 2026
Memperingati World Food Day 2026, Danone Indonesia dan Universitas Pelita Harapan mengadakan seminar dan lokakarya interaktif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai nutrisi hingga cara membaca label makanan dengan lebih cermat./Novi
Memperingati World Food Day 2026, Danone Indonesia dan Universitas Pelita Harapan mengadakan seminar dan lokakarya interaktif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai nutrisi hingga cara membaca label makanan dengan lebih cermat./Novi
A A A

Pernahkah seorang Ibu berdiri cukup lama di depan rak supermarket sambil memegang dua kemasan makanan? Ia ingin memilih produk terbaik untuk anaknya, tetapi justru bingung ketika membaca label gizi di bagian belakang kemasan. Ada tulisan energi, protein, karbohidrat, gula, lemak, hingga berbagai nama bahan yang terdengar asing. Sementara di bagian depan kemasan, ada klaim yang menyebut produk tersebut sehat dan kaya nutrisi.

Lantas, mana yang sebaiknya dipilih?

Situasi seperti ini mungkin sering dialami para orang tua. Di tengah banyaknya pilihan makanan dan informasi gizi yang beredar, menentukan pangan yang tepat memang tidak selalu mudah. Padahal, memahami isi makanan merupakan langkah penting untuk membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.

Dalam rangka memperingati World Food Day 2026 bertema “Innovate Today. Nourish Tomorrow”, Danone Indonesia bersama Universitas Pelita Harapan (UPH) mengadakan seminar dan lokakarya interaktif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai nutrisi, keamanan pangan, fungsi bahan pangan, serta cara membaca label makanan dengan lebih cermat.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K), mengingatkan bahwa orang tua sebaiknya tidak menilai suatu produk hanya dari satu bahan atau klaim yang tertera di bagian depan kemasan.

Menurutnya, pemilihan makanan perlu mempertimbangkan komposisi bahan, kandungan gizi, ukuran porsi, serta peran produk tersebut dalam pola makan sehari-hari. “Dengan begitu, orang tua bisa menilai makanan secara lebih utuh, bukan sekadar terpaku pada satu informasi,” kata dr. Diana, Kamis, 15 Oktober 2026 di UPH, Tangerang.

Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K). Foto: Novi
Dokter Spesialis Gizi Klinik Konsultan, Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK(K). Foto: Novi

Jangan Lewatkan Informasi di Belakang Kemasan

Langkah pertama yang bisa dilakukan saat memilih makanan adalah membiasakan diri membaca tabel informasi nilai gizi dan daftar komposisi. Jangan hanya melihat tulisan besar atau klaim menarik di bagian depan kemasan.

Perhatikan jumlah energi atau kalori, protein, lemak, karbohidrat, dan gula yang terkandung di dalamnya. Informasi ini membantu kita memahami zat gizi yang diperoleh dari makanan tersebut.

Hal lain yang tak kalah penting adalah ukuran takaran saji. Angka pada tabel gizi biasanya menunjukkan kandungan zat gizi untuk satu takaran saji, bukan selalu untuk seluruh isi kemasan.

Sebagai contoh, sebuah minuman memiliki takaran saji 250 mililiter, sedangkan isi botolnya mencapai 1.000 mililiter. Jika seseorang menghabiskan seluruh botol, jumlah zat gizi dan kalori yang dikonsumsi bisa mencapai empat kali angka yang tercantum untuk satu takaran saji.

Karena itu, perhatikan hubungan antara takaran saji dan jumlah total isi kemasan. Kebiasaan sederhana ini membantu kita memperkirakan asupan makanan dan minuman dengan lebih tepat.

Memahami Gula dan Karbohidrat

dr. Diana juga mengingatkan pentingnya memahami kandungan karbohidrat dan gula. Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi bagi tubuh. Namun, jenis dan jumlahnya perlu diperhatikan, terutama ketika memilih makanan dan minuman untuk anak.

Gula alami, misalnya, terdapat dalam bahan pangan seperti buah dan susu. Sementara itu, gula tambahan merupakan gula yang sengaja dimasukkan saat makanan atau minuman dibuat. Konsumsi gula tambahan yang berlebihan perlu dihindari karena dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan, termasuk kerusakan gigi.

Karena itu, orang tua perlu lebih cermat memperhatikan kandungan gula dalam produk yang dikonsumsi anak. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis juga perlu dijaga sejak dini agar anak tidak terbiasa dengan rasa yang terlalu manis.

Selain gula, ada pula bahan pangan yang namanya kerap menimbulkan pertanyaan, salah satunya maltodekstrin. Dalam kesempatan yang sama, Dosen Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan, Julia R. Wijaya, Ph.D., menjelaskan bahwa setiap bahan pangan memiliki fungsi berbeda dalam suatu produk.

Dosen Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), Julia R. Wijaya, Ph.D. Foto: Novi
Dosen Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), Julia R. Wijaya, Ph.D. Foto: Novi

Maltodekstrin merupakan jenis karbohidrat yang berasal dari pati dan bukan gula tambahan. Dalam formulasi produk pangan, bahan ini dapat membantu membentuk tekstur, menjaga kelarutan, serta membawa vitamin dan mineral. Fungsinya tidak selalu berkaitan dengan memberikan rasa manis.

Julia menegaskan bahwa bahan pangan perlu dipahami berdasarkan sifat, fungsi, dan penggunaannya secara keseluruhan. Oleh sebab itu, keberadaan satu bahan saja, tidak cukup untuk menentukan apakah suatu produk baik atau buruk.

Tidak Perlu Langsung Takut dengan Makanan Olahan

Nama bahan yang terdengar asing terkadang membuat konsumen langsung khawatir. Padahal, menurut Julia, proses pengolahan pangan tidak serta-merta membuat makanan menjadi tidak sehat. Pengolahan dapat memiliki berbagai tujuan, termasuk menjaga kualitas, keamanan, daya simpan, dan membantu memenuhi kebutuhan konsumen.

Yang terpenting adalah memahami bagaimana bahan tersebut digunakan, bagaimana komposisi produknya, serta bagaimana produk itu dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehari-hari.

Sejalan dengan itu, dr. Diana mengingatkan bahwa tidak sebaiknya kita langsung menilai makanan hanya berdasarkan satu kandungan. Produk yang mengandung bahan tertentu tetap perlu dilihat secara menyeluruh, termasuk kandungan protein, lemak, karbohidrat, gula, dan energi totalnya.

Foto: Ist
Dengan literasi pangan yang lebih baik dan informasi berbasis sains, kita bisa menjadi konsumen yang lebih cermat. Foto: Ist

Pilih Pangan dengan Lebih Bijak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui panduan pola makan sehat menekankan empat prinsip utama, yaitu kecukupan, keseimbangan, moderasi atau tidak berlebihan, serta keberagaman pangan.

Artinya, pola makan sehat bukan sekadar menghindari satu jenis bahan, melainkan memenuhi kebutuhan gizi dengan jumlah yang sesuai, mengonsumsi beragam jenis pangan, dan menjaga keseimbangan asupan.

Hal ini sangat penting bagi anak, terutama selama 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang menjadi periode penting bagi tumbuh kembangnya. Orang tua perlu memastikan kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral anak terpenuhi melalui pola makan yang sesuai.

Jadi, saat berbelanja, jangan terburu-buru mengambil keputusan hanya karena kemasannya menarik atau klaimnya terdengar meyakinkan. Luangkan waktu untuk membaca label gizi, memeriksa komposisi, dan memahami ukuran takaran saji.

Dengan literasi pangan yang lebih baik dan informasi berbasis sains, kita bisa menjadi konsumen yang lebih cermat. Sebab, memilih makanan bukan hanya soal rasa atau harga, tetapi juga tentang memahami apa yang dikonsumsi dan bagaimana makanan tersebut mendukung kesehatan seluruh anggota keluarga.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Dari Minahasa Selatan ke Pasar Global, Kelapa Indonesia Kian Mendunia
img
World Food Day 2026: Bingung Membaca Label Gizi? Ini yang Perlu Diperhatikan
img
Perlu Moms Ketahui, Berikut Racun yang Tak Mati Meski Sudah Dimasak!
img
Optimalkan Peran AI Dukung Produktivitas, Kreativitas, dan Kecakapan Gaming Mahasiswa Lewat RTX AI PC Day