ads

Bukan Sekadar Pendampingan, Program INSPIRE Mentorship Bantu Siswa Disabilitas Kenali Potensi dan Rancang Masa Depan

Efa Trapulina - Jumat, 06 November 2026
Sesi fun games setelah momen Graduation Day program INSPIRE Mentorship hasil kolaborasi PT Kraft Heinz ABC Indonesia dan Yayasan Helping Hands di Jakarta (Foto: Efa)
Sesi fun games setelah momen Graduation Day program INSPIRE Mentorship hasil kolaborasi PT Kraft Heinz ABC Indonesia dan Yayasan Helping Hands di Jakarta (Foto: Efa)
A A A

Moms, tentunya setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk tumbuh, mengembangkan potensi, dan merancang masa depannya. Namun, bagi anak-anak penyandang disabilitas, kesempatan untuk mengenal dunia profesional dan mendapatkan pendampingan dalam mempersiapkan masa depan masih menjadi tantangan tersendiri.

Berangkat dari kebutuhan tersebut dan dalam rangka peringatan Hari Anak Sedunia pada November ini, PT Heinz ABC Indonesia bersama Yayasan Helping Hands (YHH) kembali menghadirkan program INSPIRE Mentorship bagi pelajar disabilitas.

Program pendampingan selama tiga bulan ini melibatkan 10 karyawan ABC Indonesia sebagai mentor bagi 10 pelajar disabilitas dari SLB Pembina Tingkat Nasional, yang merupakan sekolah khusus bagi peserta didik tunanetra.

Melalui program ini, para siswa diajak mengenali potensi diri, membangun kepercayaan diri, serta mempersiapkan langkah setelah menyelesaikan pendidikan. Tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dari para mentor, mereka juga memiliki ruang untuk berdiskusi mengenai cita-cita, pendidikan lanjutan, hingga gambaran dunia kerja.

People & Performance Director PT Heinz ABC Indonesia, Dina Sitopu, mengatakan program ini merupakan salah satu bentuk nyata penerapan nilai perusahaan, khususnya We Demand Diversity dan Champion Great People. “Peringatan Hari Anak Sedunia menjadi momentum pengingat bahwa anak-anak Indonesia memiliki potensi terbaik yang perlu kita jaga dan kembangkan. Perusahaan secara proaktif mengambil peran melalui program INSPIRE Mentorship untuk mendukung dan mendampingi anak-anak disabilitas yang tengah membangun mimpi untuk meraih masa depan lebih baik,” ujar Dina.

(ki-ka) Dina Sitopu
(ki-ka) Dina Sitopu, People & Performance Director PT Heinz ABC Indonesia dan Wendy Kusumowidagdo, Direktur Yayasan Helping Hands (Foto: Efa)

Kerangka SWOT

Ia menjelaskan, program ini melibatkan 10 karyawan yang secara sukarela mendampingi 10 pelajar disabilitas. Selama tiga bulan, mentor dan mentee berdiskusi menggunakan kerangka SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk mengenali kekuatan, kelemahan, peluang, serta tantangan yang perlu dihadapi dalam merencanakan masa depan.

Selama tiga bulan, ujar Dina, para mentor dan mentee (peserta mentoring) diberi keleluasaan menentukan waktu serta cara berkomunikasi. Pertemuan dapat dilakukan secara daring lewat zoom maupun langsung, menyesuaikan kesibukan dan kenyamanan masing-masing. Sebelum program dimulai, para mentor juga mendapatkan pembekalan sekitar dua setengah jam bersama Yayasan Helping Hands. Pembekalan ini mencakup cara berinteraksi dan berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, tujuan pendampingan, serta hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses mentoring.

Pengalaman positif dari pendampingan tersebut terlihat dalam Graduation Day INSPIRE Mentorship yang berlangsung Kamis (5/11). Dalam kesempatan itu, para mentee menyampaikan pengalaman dan kesan mereka selama mengikuti program. Dengan percaya diri, mereka berbagi cerita di hadapan para mentor, sesama peserta, karyawan perusahaan, serta awak media.

Asqyal
Aqsyal Rusli Syafatulloh, siswa kelas XII SLB Pembina Tingkat Nasional membagikan kesannya setelah mengikuti program INSPIRE Mentorship selama 3 bulan 

Salah satunya Aqsyal Rusli Syafatulloh, siswa kelas XII SLB Pembina Tingkat Nasional, yang mengikuti mentoring bersama seorang karyawan, Baiq Indira Rahmi. Selama kurang lebih tiga bulan, keduanya berusaha meluangkan waktu untuk bertemu setiap hari Minggu. Meski terkadang terkendala kesibukan masing-masing, pertemuan sekitar 40 menit itu menjadi ruang untuk berbagi cerita dan pengalaman.

“Cerita dan pengalaman dari Kak Baiq menjadi salah satu motivasi bagi saya untuk menentukan langkah ke depan. Terutama dalam memikirkan apa yang akan saya lakukan setelah lulus dari SMA. Alhamdulillah, sekarang saya sudah mulai bisa menentukan arah yang ingin saya tuju,” ujar Aqsyal yang berencana melanjutkan studi ke perguruan tinggi di jurusan Pendidikan Luar Biasa.

Sementara bagi Baiq, sesi mentoring menjadi ruang belajar besama. “Saya dapat memahami lebih dalam mengenai tantangan yang dihadapi pelajar disabilitas, khususnya untuk mengakses jenjang pendidikan tinggi, sekaligus terinspirasi dan belajar dari ketekunan mereka," ujarnya.

Yang bikin haru, Aqsyal mengaku berakhirnya masa mentoring bukan berarti ikatan antara keduanya putus. “Kami bahkan masih menjaga komunikasi hingga sekarang. Pendampingan ini menambah kepercayaan diri saya, sekaligus menjadi wadah untuk menggali potensi terbaik saya," jelas Aqsyal yang menganggap Baiq adalah kakak sekaligus teman diskusi yang tulus.

Rin Sukma
Rin Sukma Tegar, siswa kelas XII A SMA Pembinaan Tingkat Nasional membagikan kesannya setelah lulus dari program INSPIRE mentorship

Hal serupa disampaikan Rin Sukma Tegar, siswa kelas XII A SMA Pembinaan Tingkat Nasional Jakarta, yang mengikuti mentoring bersama Dewa Ayu Putri Maheswari. Selama pendampingan, keduanya tidak hanya membicarakan dunia perkuliahan dan organisasi, tetapi juga mengenal dunia kerja, kehidupan profesional, hingga cara mencapai karier yang diinginkan.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, setulus-tulusnya, dan sebesar-besarnya atas dedikasi, waktu, serta kesempatan yang sudah Kak Ayu berikan kepada saya,” tutur Rin.

Rin berharap pengalaman dan wawasan yang diperolehnya selama mengikuti program dapat menjadi bekal untuk menapaki masa depan.

Apa yang dirasakan Aqsyal dan Rin menjadi gambaran bagaimana akses terhadap pengalaman dan pengetahuan dari dunia profesional dapat membantu anak-anak disabilitas melihat lebih banyak kemungkinan dalam hidup mereka.

Pembelajaran Dua Arah

Menurut Dina, pengalaman mentoring menghadirkan pembelajaran dua arah. Para mentor tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga mendapatkan perspektif baru dari para siswa yang mereka dampingi. “Ternyata, dari testimoni kakak-kakak mentor, mereka malah mendapatkan banyak insight dari adik-adik mentee. Mereka menjadi manusia yang bisa melihat inklusivitas sebagai suatu kekuatan,” jelasnya.

Dina menambahkan, pengalaman tersebut juga semakin mengasah empati para mentor dan menjadi bekal yang dapat diterapkan dalam pekerjaan maupun kehidupan bermasyarakat.

Hal itu pula yang dirasakan oleh Falentino Gunawan, Key Account Manager MTI East, yang menjadi mentor bagi Sigit Radityo Nugroho yang juga siswa dari SLB Pembinaan Tingkat Nasional Jakarta. Pada awalnya, Falentino justru sempat meragukan kemampuannya untuk menjalankan peran sebagai mentor. “Ketika pertama kali membaca undangan untuk bergabung dalam program mentoring ini, saya sebenarnya merasa tidak layak. Jadi, pada awalnya saya datang dengan perasaan bahwa saya belum tentu mampu menjalankan peran ini,” kata pria asal Surabaya ini. 

Falentino dan Sigit
(ki-ka) Wendy, Falentino Gunawan, Sigit Radityo Nugroho, dan Dina Sitopu dalam acara Graduation Day, penanda momen kelulusan kelulusan 10 pelajar disabilitas dalam program INSPIRE Mentorship 

Namun, keraguan itu berubah menjadi pengalaman belajar yang tidak ia duga. Falentino mengaku justru ia merasa dirinya juga menjadi mentee karena banyak mendapatkan pelajaran dari peserta yang didampinginya.

“Saya banyak belajar dari mereka tentang bagaimana memandang seseorang sebagai manusia yang utuh, bukan hanya melihat kekurangannya. Sebab, kalau kita hanya berfokus pada kekurangan, pandangan kita terhadap sesama menjadi begitu sempit. Padahal, ciptaan Tuhan begitu luas, indah, dan penuh potensi,” ungkapnya.

Ia mencontohkan Sigit yang ternyata merupakan atlet catur difabel yang berprestasi dan sering mengikuti kompetisi kategori umum maupun disabilitas. Hal itu semakin membuatnya menyadari bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan kelebihan yang tidak selalu terlihat dari kondisi fisiknya. “Sigit, misalnya, adalah seorang atlet catur. Saya jadi berpikir, belum tentu juga saya bisa mengalahkan Sigit dalam bermain catur!” ujarnya sambil tertawa.

Bagi Falentino, pengalaman tersebut menguatkan makna nilai “We Demand Diversity” yang selama ini digaungkan perusahaan. Ia merasa bersyukur dapat menjadi mentor sekaligus mentee karena memperoleh perspektif baru tentang cara memandang diri sendiri dan orang lain.

Sementara itu, lewat rekaman video, Sigit juga menyampaikan rasa terima kasihnya dengan tulus. “Selama saya belajar dengan Kak Falen, rasanya sangat senang. Kak Falen bisa diajak bercanda. Kami juga berbagi cerita tentang banyak hal dan pengalaman,” ungkap Sigit.

Membangun Rasa Berharga dan Kepercayaan Diri

Dampak terhadap kepercayaan diri para mentee menjadi salah satu perubahan yang paling terlihat selama program berlangsung. Direktur Yayasan Helping Hands, Wendy Kusumowidagdo, menjelaskan bahwa anak-anak disabilitas, khususnya siswa SLB, masih memiliki keterbatasan kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia luar, terutama lingkungan profesional dan masyarakat non-disabilitas.

Karena itu, kesempatan bertemu dan berdiskusi secara personal dengan para profesional menjadi pengalaman yang bermakna. Perhatian yang diberikan mentor membantu peserta merasa didengar, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk berkembang.

“Ketika kakak mentor meluangkan waktu, energi, dan memberikan perhatian secara one-on-one (1:1) kepada adik mentee, dengan adanya banyak diskusi itu pasti menumbuhkan rasa bahwa mereka berharga, dan bahwa mereka juga memiliki peran di dunia ini, di masyarakat,” kata Wendy.

Wandy menilai, dampak nyata setelah mentoring memang membutuhkan waktu untuk dapat diukur secara menyeluruh. Namun, keberanian peserta dalam menyampaikan pendapat, berbagi pengalaman, dan membicarakan rencana masa depan menjadi salah satu perkembangan yang dapat dilihat selama pendampingan.

“Kerangka SWOT yang digunakan dalam mentoring juga membantu peserta menyusun gambaran yang lebih jelas mengenai tujuan mereka. Dari diskusi tersebut, muncul beragam cita-cita, mulai dari melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi hingga mengembangkan kemampuan sebagai atlet catur,” terangnya.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena cara berpikir terstruktur untuk mengenali potensi dan merencanakan masa depan masih belum banyak diperkenalkan kepada siswa SMA dengan disabilitas.

Zahra dan Juita
(ki-ka) Wendy Kusumowidagdo, Zahra Meydia Sari (Mentee) dan Juita Kartini (Mentor) - External Communications Manager PT Heinz ABC Indonesia, dan Dina Sitopu dalam momen penerimaan sertifikat program INSPIRE Mentorship

Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya Yayasan Helping Hands dalam memperluas akses dan kesempatan bagi penyandang disabilitas. Sejak berdiri pada 2021, yayasan tersebut berfokus pada advokasi inklusivitas disabilitas melalui tiga pilar utama, yakni pendampingan Mentorship 1-on-1 untuk memetakan potensi diri, program Upskill untuk meningkatkan kapasitas teknologi dan digital, serta Internship guna memberikan pengalaman profesional secara langsung.

Hingga kini, program mentorship YHH telah berhasil dilaksakankan hingga angkatan ke-12, dengan jejaring pendampingan yang melibatkan sekitar 1.000 peserta, terdiri atas siswa difabel dan para mentor.

Sementara itu, Dina menjelaskan bahwa kolaborasi mentoring ini telah berlangsung sejak tahun 2021 dan merupakan kali keempat diadakan. “Jadi, kami cukup berkomitmen untuk tetap berkontribusi, bekerja sama dengan Yayasan Helping Hands, sebagai bentuk komitmen untuk giving back to the community,” imbuhnya.

Dina menyebut program INSPIRE Mentorship ini merupakan salah satu bentuk komitmen perusahaan untuk terus berkontribusi kepada masyarakat melalui kolaborasi dengan Yayasan Helping Hands.

“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi ini, yang kami anggap sebagai champion for inclusion karena kontribusi nyata perusahaan dalam membagikan pengetahuan serta pengalaman praktis yang sangat dibutuhkan untuk membangun rasa keberhargaan diri dan kepercayaan diri anak-anak difabel,” ungkap Wendy. 

Kebutuhan akan pendampingan semacam ini juga tercermin dalam data Badan Pusat Statistik melalui Statistik Pendidikan 2024. Tercatat, hanya 22,17 persen penyandang disabilitas yang menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMA atau sederajat, sementara yang melanjutkan ke perguruan tinggi hanya 5,58 persen. Angka tersebut menunjukkan masih perlunya dukungan bersama untuk memperluas akses pendidikan, pembekalan keterampilan, serta kesempatan berkembang bagi kelompok disabilitas.

Ke depan, perusahaan juga membuka peluang kolaborasi lanjutan bagi para peserta, termasuk kesempatan magang dengan mempertimbangkan kesiapan siswa dan kebutuhan yang ada. Pada angkatan sebelumnya, satu hingga dua peserta bahkan sempat memperoleh kesempatan magang di lingkungan perusahaan. “Kami selalu berkomitmen untuk membuka kesempatan kolaborasi dengan adik-adik. Nanti kita lihat kesiapan dari adik-adik, baik dari sekolahnya maupun dari kesiapan kakak-kakak mentornya,” tutup Dina.

Pada akhirnya, Graduation Day bukan sekadar penanda berakhirnya tiga bulan pendampingan. Melalui INSPIRE Mentorship, kedua belah pihak membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor dapat memberikan kontribusi strategis dalam membangun harapan serta kapasitas anak-anak difabel, serta mencetak para professional yang memiliki kepekaan sosial dan inklusif.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Bukan Sekadar Pendampingan, Program INSPIRE Mentorship Bantu Siswa Disabilitas Kenali Potensi dan Rancang Masa Depan
img
Tren di Kalangan Anak, Jangan Asal Unggah! Ada Bahaya Tersembunyi di Balik Video GRWM
img
Rumah Inspirasi bagi Pencinta Kuliner yang Ingin Punya Bisnis
img
Soft Toys for Sumatran Tiger: Bermain Seru, Belajar Menyayangi Satwa, dan Menjaga Alam Sejak Dini