ads

Tren di Kalangan Anak, Jangan Asal Unggah! Ada Bahaya Tersembunyi di Balik Video GRWM

Novita Sari - Jumat, 06 November 2026
Dari seragam hingga lokasi rumah, informasi anak bisa terbongkar lewat video. Foto: Ist
Dari seragam hingga lokasi rumah, informasi anak bisa terbongkar lewat video. Foto: Ist
A A A

Tren video Get Ready With Me (GRWM) semakin populer di media sosial, termasuk di kalangan anak-anak dan remaja. Lewat video ini, mereka bisa berbagi aktivitas sehari-hari, mulai dari persiapan berangkat sekolah, memilih pakaian, menggunakan produk perawatan kulit, hingga menunjukkan barang-barang favorit. Sekilas terlihat seru dan menyenangkan. Namun, tahukah kamu bahwa video sederhana tersebut ternyata bisa mengungkap banyak informasi pribadi?

Para ahli keamanan siber Kaspersky mengingatkan bahwa kebiasaan membagikan rutinitas sehari-hari di media sosial dapat meninggalkan jejak digital yang lebih besar daripada yang disadari anak-anak. Tanpa sengaja, mereka mungkin memperlihatkan informasi yang bisa digunakan orang lain untuk mengetahui identitas, lokasi, hingga kebiasaan sehari-hari.

Contohnya, seragam sekolah, logo pada tas, pemandangan dari jendela rumah, jalan yang terlihat di belakang video, atau nama teman yang disebutkan saat berbicara. Bahkan, cerita tentang kebiasaan berangkat sekolah dan kegiatan setelah pulang sekolah bisa menjadi petunjuk mengenai aktivitas harian seorang anak.

Masing-masing informasi tersebut mungkin terlihat biasa saja. Namun, jika dikumpulkan dan dihubungkan satu sama lain, berbagai detail kecil itu dapat memberikan gambaran cukup lengkap tentang kehidupan seseorang. Inilah yang disebut berbagi informasi secara berlebihan atau oversharing.

Mengapa Jejak Digital Perlu Diperhatikan?

Jejak digital adalah kumpulan informasi yang ditinggalkan seseorang saat menggunakan internet. Bentuknya bisa berupa foto, video, komentar, nama akun, pesan, hingga informasi lokasi yang dibagikan melalui berbagai platform.

Masalahnya, ketika sebuah konten sudah diunggah ke ruang publik, kita tidak selalu bisa mengendalikan siapa yang melihat, menyimpan, atau membagikannya kembali. Foto yang awalnya hanya ingin ditunjukkan kepada teman bisa saja disalin dan disebarkan ke orang lain. Bahkan, nama pengguna di satu platform dapat membantu orang menemukan akun lain yang dimiliki seseorang.

Informasi tersebut juga berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Mereka bisa mengumpulkan berbagai detail dari akun media sosial untuk membuat pesan penipuan atau phishing yang terlihat meyakinkan, menyamar sebagai teman atau orang yang dikenal anak, bahkan membuat akun palsu.

Misalnya, ketika seseorang mengetahui nama sekolah, hobi, dan teman-teman seorang anak, informasi tersebut bisa digunakan untuk membuat pesan yang seolah-olah berasal dari lingkungan terdekatnya. Karena terlihat akrab dan meyakinkan, anak bisa saja tertipu.

5 Cara Melindungi Jejak Digital Anak

Lantas, bagaimana agar anak tetap bisa menikmati media sosial tanpa mengabaikan keamanan informasi pribadinya? Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan bersama keluarga.

1. Periksa Video Sebelum Diunggah

Sebelum membagikan video, ajak anak untuk melihat kembali konten yang dibuat. Jangan hanya bertanya apakah videonya menarik, tetapi perhatikan juga informasi apa saja yang mungkin terlihat oleh orang asing.

Apakah ada nama sekolah pada seragam? Apakah alamat rumah atau jalan di sekitar rumah terlihat? Apakah ada informasi mengenai jadwal kegiatan sehari-hari? Kebiasaan memeriksa video sebelum diunggah dapat membantu anak lebih berhati-hati dalam membagikan informasi.

2. Kenali Jejak Digital yang Sudah Ada

Orang tua dan anak dapat sesekali mencari tahu informasi apa saja tentang mereka yang sudah tersedia secara publik di internet. Misalnya, dengan memeriksa nama, nama panggilan, alamat email, serta akun media sosial yang pernah digunakan.

Jangan lupa memeriksa akun lama yang mungkin sudah tidak aktif, tetapi masih menyimpan foto atau informasi pribadi. Meski jejak digital tidak selalu bisa dihapus sepenuhnya, keluarga tetap dapat mengurangi informasi yang tidak lagi perlu ditampilkan.

3. Jangan Sembarangan Membagikan Data Pribadi

Saat menggunakan aplikasi atau membuat akun baru, anak sering diminta memberikan berbagai informasi, seperti lokasi, daftar kontak, akses foto, dan data pribadi lainnya.

Ajarkan anak untuk tidak langsung menyetujui semua permintaan tersebut. Biasakan bertanya, apakah informasi itu benar-benar diperlukan untuk menggunakan aplikasi? Jika tidak, sebaiknya akses tersebut tidak diberikan.

Semakin sedikit informasi pribadi yang dibagikan, semakin kecil pula peluang data tersebut disalahgunakan.

4. Periksa Pengaturan Privasi Media Sosial

Pengaturan privasi perlu diperiksa secara berkala, bukan hanya saat pertama kali membuat akun. Orang tua dapat membantu anak memastikan siapa saja yang bisa melihat unggahan, mengirim pesan, atau mengakses informasi pada profil mereka.

Pastikan akun media sosial diatur sesuai kebutuhan dan tidak sembarangan menerima permintaan pertemanan dari orang yang tidak dikenal.

Keluarga juga dapat memanfaatkan perangkat pendukung keamanan digital, seperti Privacy Checker untuk memahami pilihan pengaturan privasi di berbagai platform. Sementara itu, Kaspersky Safe Kids menyediakan fitur untuk membantu orang tua mengelola waktu penggunaan layar, menyaring konten yang tidak sesuai, dan memantau lokasi anak.

5. Rapikan Akun dan Unggahan Lama

Seiring bertambahnya usia, minat dan kebiasaan anak di dunia digital tentu berubah. Akun lama, foto yang pernah diunggah, atau komentar yang sudah tidak sesuai dengan dirinya mungkin masih tersimpan di internet.

Karena itu, ajak anak memeriksa kembali akun dan unggahan lama secara berkala. Hapus konten yang tidak lagi perlu ditampilkan dan tutup akun yang sudah tidak digunakan jika memungkinkan.

Kebiasaan ini juga mengajarkan anak bahwa jejak digital bukan sesuatu yang harus dibiarkan begitu saja. Mereka bisa belajar mengelola informasi tentang dirinya agar lebih aman.

Bijak Bermedia Sosial Sejak Dini

Menurut Andrey Sidenko, Cyber Literacy Projects Lead di Kaspersky, anak-anak saat ini tidak selalu dapat mengendalikan seberapa luas konten mereka tersebar di internet. Video yang awalnya dibuat untuk ditonton oleh teman-teman dekat bisa saja menjangkau ribuan orang tanpa diduga.

Karena itu, edukasi keamanan digital tidak cukup hanya dengan mengingatkan anak agar berpikir sebelum mengunggah sesuatu. Anak juga perlu memahami cara menjaga privasi, mengelola jejak digital, serta mengetahui apa yang harus dilakukan ketika informasi pribadinya tersebar lebih luas dari yang diharapkan.

Pada akhirnya, mengikuti tren GRWM atau berbagi aktivitas sehari-hari di media sosial bukanlah hal yang harus dilarang sepenuhnya. Anak tetap bisa berkreasi dan mengekspresikan diri, asalkan memahami batasan informasi yang aman untuk dibagikan.

Peran orang tua juga sangat penting. Bukan sekadar membatasi penggunaan media sosial, tetapi mendampingi anak agar mampu menjadi pengguna internet yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab. Dengan begitu, keseruan membuat konten tetap bisa dinikmati tanpa harus mengorbankan privasi dan keamanan diri.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Tren di Kalangan Anak, Jangan Asal Unggah! Ada Bahaya Tersembunyi di Balik Video GRWM
img
Rumah Inspirasi bagi Pencinta Kuliner yang Ingin Punya Bisnis
img
Soft Toys for Sumatran Tiger: Bermain Seru, Belajar Menyayangi Satwa, dan Menjaga Alam Sejak Dini
img
Dua Ibu dengan Anak Down Syndrome Hadirkan Sekolah Inklusif di Kemang