Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2025: Saatnya Lebih Peduli Kesehatan Gusi
Tahukah Moms, setiap tanggal 12 September diperingati sebagai Hari Kesehatan Gigi Nasional (HKGN). Tahun 2025 ini, HKGN mengangkat tema “Gigi dan Gusi Sehat, Senyum Indonesia Hebat”, yang menyoroti pentingnya kesehatan gusi.
drg. Usman Sumantri, MSc, Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), menjelaskan bahwa penyakit gusi adalah masalah terbesar kedua di Indonesia setelah gigi berlubang. Namun, karena tidak menimbulkan rasa sakit pada tahap awal, banyak orang tidak menyadari bahayanya.
“Jika dibiarkan, penyakit gusi tidak hanya merusak mulut, tetapi juga berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan,” ungkap drg. Usman dalam konferensi pers peresmian Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2025 yang berlangsung di Plaza Timur Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta, Minggu (21/9).
Senada dengan hal itu, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D, Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) mengungkapkan bahwa kesehatan gusi kerap terlupakan. Padahal, katanya, penyakit gusi bisa menjadi bahaya tersembunyi bagi kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Berbeda dengan gigi berlubang yang menimbulkan rasa sakit, penyakit gusi kerap disebut “silent killer”. Gejalanya samar dan tidak selalu menimbulkan keluhan di awal, sehingga banyak orang baru menyadari saat kondisinya sudah parah.
Prof. Suryono menjelaskan bahwa penyakit gusi memiliki dua tahap. Tahap awal adalah gingivitis, ditandai dengan gusi bengkak, merah, atau mudah berdarah. Kondisi ini masih bisa disembuhkan jika ditangani segera. Namun, jika diabaikan, akan berkembang menjadi periodontitis, yaitu kerusakan jaringan penyangga gigi yang sering kali tidak dapat dipulihkan.
“Pada tahap periodontitis, gigi bisa menjadi goyang hingga akhirnya tanggal. Yang perlu diwaspadai, bakteri dari gusi yang terinfeksi dapat masuk ke aliran darah dan meningkatkan risiko penyakit sistemik seperti jantung, stroke, diabetes, hingga komplikasi kehamilan,” terang Prof. Suryono.
Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Gusi
Agar gusi tetap sehat, Prof. Suryono menekankan perlunya pencegahan sejak dini dengan melakukan langkah sederhana:
- Menyikat gigi dua kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur.
- Membersihkan sela-sela gigi menggunakan benang gigi atau interdental brush.
- Mengurangi konsumsi gula berlebih.
- Melakukan scaling (pembersihan karang gigi) secara berkala.
- Kontrol ke dokter gigi minimal setiap enam bulan sekali, meski tidak ada keluhan.
Prof. Suryono mengingatkan agar jangan menunggu sampai gigi bermasalah untuk datang ke dokter. Gusi sehat bukan hanya penopang gigi agar tetap kuat, tetapi juga pelindung tubuh dari berbagai penyakit berbahaya.
“Dengan perawatan rutin dan pemeriksaan berkala, kita bisa mencegah penyakit gusi berkembang menjadi masalah serius. Kesehatan gigi dan gusi adalah bagian dari kesehatan tubuh secara menyeluruh,” tegasnya
Menurut data Kementerian Kesehatan, masalah gigi dan mulut masih menjadi keluhan terbanyak di Indonesia, meliputi seluruh kelompok umur. Dan, masalah gusi adalah gangguan mulut terbanyak kedua di Indonesia setelah gigi berlubang. Sayangnya, banyak masyarakat belum menyadari pentingnya memeriksakan gusi secara rutin.
Karena itu, BKGN menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat agar tidak hanya fokus pada gigi berlubang, tetapi juga memerhatikan kesehatan gusi. Peringatan ini juga memperkuat semangat kolaborasi antara pemerintah, asosiasi profesi, akademisi, dan masyarakat dalam upaya promotif dan preventif.
drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., Personal Care Community Lead Unilever Indonesia menuturkan, BKGN 2025 akan memberikan perawatan dan konsultasi gigi dan gusi gratis bagi 28.000 masyarakat, diselenggarakan di 30 Fakultas Kedokteran Gigi dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan di seluruh Indonesia. Layanan BKGN 2025 meliputi pembersihan karang gigi, penambalan gigi dan aplikasi fluoride atau fissure sealant, serta pencabutan gigi.
“Selain itu sebagai upaya promotif preventif, sebanyak 55 PDGI Cabang akan melakukan edukasi kesehatan gigi dan gusi bagi siswa sekolah di berbagai wilayah Indonesia, hingga menjangkau area-area terpencil seperti Simeulue - Aceh, Kotawaringin Barat - Kalimantan Tengah, Jeneponto - Sulawesi Selatan, dan Sorong - Papua,” tutupnya.