ads

Intai Usia Produktif: Perlindungan Penyakit Kritis Jadi Kunci Ketenangan Saat Risiko Datang 

Efa Trapulina - Kamis, 29 Januari 2026
(ki-ka) Santy Gui, Direktur PT Zurich Topas Life, dr. Gia Pratama selaku Praktisi Medis dan Pemerhati Kesehatan, dan Yohan Dharmawan, Head of Propositions PT Zurich Topas Life (Foto: Ist)
(ki-ka) Santy Gui, Direktur PT Zurich Topas Life, dr. Gia Pratama selaku Praktisi Medis dan Pemerhati Kesehatan, dan Yohan Dharmawan, Head of Propositions PT Zurich Topas Life (Foto: Ist)
A A A

Moms, pernahkah mendengar berita teman atau kerabat yang masih berusia 30 atau 40-an tahun namun harus dirawat di rumah sakit karena stroke, gagal ginjal, atau serangan jantung? Dulu, penyakit-penyakit ini biasa menyerang usia lanjut, tapi kini justru banyak terjadi pada usia produktif. Kenapa ini bisa terjadi?

Ini merupakan satu kenyataan yang perlu dihadapi bersama: risiko penyakit serius bisa datang tanpa banyak tanda, bahkan saat seseorang berada di usia produktif dan terlihat baik-baik saja.

Dari sisi kesehatan, ini bukan isu sepele. Data Kementerian Kesehatan RI tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 75 - 78% kematian di Indonesia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM).

Urgensi perlindungan penyakit kritis semakin nyata. Penyakit Tidak Menular, terutama kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke, menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia. Hampir 800.000 nyawa direnggut setiap tahun.

Yang mengejutkan, usia rata-rata serangan jantung pertama di Indonesia semakin muda. Praktisi Medis dan Pemerhati Kesehatan, dr. Gia Pratama menjelaskan bahwa dalam satu dekade terakhir, usia pasien penyakit kritis semakin menurun. “Jika sebelumnya penyakit jantung pertama kali banyak terjadi di akhir usia 40-an, kini rata-rata turun ke awal 40-an, bahkan mulai muncul di usia 30-an dan 20-an,” imbuhnya dalam acara diskusi edukasi finansial dan kesehatan di Jakarta (27/1).

dr. Gia Pratama mengatakan, penyakit kritis sebenarnya berkembang “perlahan”. Ada proses panjang yang sering tidak disadari dan kita anggap “sepele”, seperti: gula darah yang terus tinggi akibat konsumsi manis berlebih, tekanan darah tinggi yang jarang di-cek karena minim gejala, kurang aktivitas fisik (rata-rata orang Indonesia hanya berjalan sekitar 3.000 langkah per hari), obesitas, dan kebiasaan merokok (yang angkanya masih sangat tinggi pada laki-laki dewasa). Semua faktor ini perlahan membebani tubuh hingga akhirnya memicu penyakit serius.

Dampaknya Bukan Hanya ke Pasien, tapi Seluruh Keluarga

Pada kehidupan nyata, dr. Gia sering melihat bagaimana penyakit kritis mengubah dinamika keluarga. Pasien harus menjalani perawatan jangka panjang, sementara pasangan atau anggota keluarga lain harus mendampingi, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan penghasilan.

Moms, di titik ini, yang sering dipikirkan orang tua bukan cuma soal sembuh atau tidak. Tapi juga: “Bagaimana biaya sekolah anak?”, “Siapa yang menanggung kebutuhan rumah tangga?”, dan “Apa keluarga saya akan aman ke depannya?”

“BPJS memang sangat membantu, tapi untuk penyakit katastropik belum semua kebutuhan bisa tertanggung sepenuhnya. Di sinilah banyak keluarga mulai merasakan tekanan finansial yang berat,” ujar dr. Gia terus terang.

Ya, laporan Health Trends 2025 dari Mercer Marsh Benefits mencatatkan tren kenaikan biaya kesehatan (medical trend rate) di Indonesia mencapai 19% pada 2025, jauh melampaui inflasi dan berpotensi memberi tekanan finansial signifikan bagi keluarga apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Ketika Perlindungan Menjadi Bagian dari Self-Care

Di sinilah perencanaan keuangan berperan sebagai “penjaga ketenangan”. Ketika risiko kesehatan sudah diantisipasi dari sisi finansial, keputusan medis bisa diambil lebih cepat, dan fokus keluarga tetap pada pemulihan, bukan lagi kepanikan soal biaya.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Zurich Life menghadirkan Zurich Critical Care, produk asuransi penyakit kritis dengan perlindungan komprehensif terhadap 141 penyakit kritis, meliputi penyakit kritis tahap awal hingga tahap akhir, termasuk tindakan angioplasti atau prosedur pembukaan arteri tersumbat yang kini semakin banyak dialami pasien usia produktif.

Peluncuran Zurich Critical Care
Peluncuran produk asuransi untuk perlindungan penyakit kritis (Foto: Efa)

Yohan Dharmawan, Head of Propositions PT Zurich Topas Life, menjelaskan bahwa penyakit kritis bukanlah risiko jangka pendek. “Penyakit kritis bukan sesuatu yang dipersiapkan hanya untuk jangka pendek. Kalau seseorang berusia 35 tahun, tentu berpikir perlindungan hingga jauh ke depan. Karena itu, kami menyediakan masa perlindungan 20 tahun atau hingga usia 85 tahun,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kenaikan biaya kesehatan menjadi alasan utama perlunya perlindungan khusus. “Inflasi medis tahun lalu mencapai 19 persen, sementara kenaikan gaji rata-rata hanya sekitar 3–5 persen. Biaya rumah sakit tidak pernah turun. Ini yang perlu diantisipasi sejak awal,” kata Yohan.

Santy Gui, Direktur PT Zurich Topas Life menegaskan bahwa perlindungan penyakit kritis tidak bisa dilepaskan dari konsep pencegahan secara menyeluruh. “Pencegahan bukan hanya tentang menghindari sakit, tetapi tentang kesiapan, baik secara fisik maupun finansial. Dengan perlindungan yang tepat, nasabah dapat mengambil keputusan medis lebih cepat dan fokus pada pemulihan tanpa terbebani kekhawatiran biaya,” ujarnya.

Dari sisi medis, kesiapan finansial terbukti memengaruhi proses pengobatan. dr. Gia Pratama mengungkapkan, “Dalam pengalaman saya, banyak keputusan pengobatan akhirnya dipengaruhi faktor non-medis, terutama finansial,” katanya.

“Ketika kekhawatiran biaya bisa dijawab, pasien biasanya jauh lebih fokus menjalani pengobatan dan pemulihan,” tutup dr. Gia.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Atasi Kelainan Bentuk Kaki O dan Kaki X Pada Anak dengan Guided Growth Surgery
img
Intai Usia Produktif: Perlindungan Penyakit Kritis Jadi Kunci Ketenangan Saat Risiko Datang 
img
Mengenal Usus Buntu dan Cara Mengatasinya
img
Gangguan Mental pada Anak: Kenali Tanda dan Jenisnya Sejak Dini