ads

Mengenal Usus Buntu dan Cara Mengatasinya

Dwi Retno - Rabu, 28 Januari 2026
Usus buntu merupakan kondisi medis yang memerlukan penanganan segera, jika tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan komplikasi serius (Foto : Freepik)
Usus buntu merupakan kondisi medis yang memerlukan penanganan segera, jika tidak ditangani dengan cepat dapat menyebabkan komplikasi serius (Foto : Freepik)
A A A

Usus buntu atau dalam istilah medis disebut apendisitis adalah peradangan pada apendiks—sebuah kantong kecil berbentuk jari yang menempel pada usus besar di bagian kanan bawah perut. Meski sering dianggap tidak memiliki fungsi penting, apendiks dapat menimbulkan masalah serius apabila mengalami peradangan dan tidak segera ditangani.

Menurut dr. Desak Ketut N.S. Pramegia, Sp.B, Dokter Spesialis Bedah Umum RS Premier Bintaro, apendisitis umumnya terjadi akibat penyumbatan pada apendiks. Penyumbatan ini dapat disebabkan oleh tinja, benda asing, infeksi, atau dalam kasus yang jarang, tumor. Ketika apendiks tersumbat, bakteri dapat berkembang dan memicu peradangan.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya usus buntu antara lain: produksi lendir berlebih, yang membuat isi apendiks menjadi kental dan menyumbat salurannya. Selain itu pembesaran jaringan limfoid di dalam apendiks, yang dapat menutup lumen apendiks dan memicu peradangan.

Gejala utama apendisitis adalah nyeri perut yang biasanya bermula di sekitar pusar, lalu berpindah ke perut kanan bawah dan semakin memburuk seiring waktu. Gejala lain yang sering menyertai antara lain; mual dan muntah, kehilangan nafsu makan, demam ringan hingga sedang, perut terasa kembung, sulit buang gas atau buang air besar. “Pada anak-anak dan lansia, gejala usus buntu ini bisa tidak khas sehingga diagnosis sering kali menjadi lebih sulit dan membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi,” ujarnya.

Untuk menegakkan diagnosis apendisitis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama dengan menilai nyeri tekan pada perut kanan bawah. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan meliputi: tes darah, untuk melihat tanda infeksi seperti peningkatan sel darah putih. Tes urine, guna menyingkirkan penyebab lain seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal. Dan, pemeriksaan pencitraan, seperti USG perut atau CT scan, untuk memastikan kondisi apendiks.

Lebih lanjut dokter Desak menjelaskan penanganan utama usus buntu adalah operasi pengangkatan apendiks (apendektomi). Tindakan ini dapat dilakukan dengan dua metode. Yaitu, apendektomi laparoskopi, adalah prosedur minimal invasif dengan sayatan kecil. Metode ini umumnya memberikan pemulihan lebih cepat dan nyeri pascaoperasi yang lebih ringan. Dan, apendektomi terbuka, dilakukan dengan sayatan lebih besar pada perut kanan bawah, biasanya jika apendiks telah pecah atau terjadi infeksi yang menyebar di rongga perut (peritonitis). Setelah operasi, pasien biasanya menjalani perawatan beberapa hari di rumah sakit dan diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi lanjutan.

“Hingga saat ini, belum ada cara pasti untuk mencegah apendisitis. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi serat, seperti konsumsi buah dan sayuran, dapat membantu menurunkan risiko terjadinya usus buntu,” tutupnya.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Mengenal Usus Buntu dan Cara Mengatasinya
img
Gangguan Mental pada Anak: Kenali Tanda dan Jenisnya Sejak Dini
img
Moms, Wajib Tahu! Cara Baru Deteksi Kanker Leher Rahim yang Lebih Privat dan Gampang
img
Bakso Urat vs Balon Air, Cara Bedakan Miom dan Kista ala dr. Budi Santoso