Moms, Wajib Tahu! Cara Baru Deteksi Kanker Leher Rahim yang Lebih Privat dan Gampang
Tahu tidak, Moms? Ternyata, angka kasus kanker leher rahim (serviks) di Indonesia itu masih sangat tinggi. Di tahun 2023 saja ada puluhan ribu kasus baru. Sedih, ya? Padahal, sebenarnya kanker ini bisa banget dicegah kalau kita rajin deteksi dini.
Nah, ada kabar baik nih dari Kemenkes RI dan para mitranya (Jhpiego, Roche, dan Bio Farma). Mereka baru saja selesai melakukan uji coba di Jawa Timur (Surabaya dan Sidoarjo) selama setahun terakhir. Mereka ingin membuat cara cek kanker serviks itu jadi lebih mudah, cepat, dan nggak menakutkan buat kita para perempuan.
Apa sih yang beda?
- Bisa "Cek Sendiri" (Self-Sampling): Di Surabaya, para Mom diberi pilihan untuk ambil sampel sendiri. Jadi lebih privat, nggak risih, dan nggak perlu takut lagi. Hasilnya? Ternyata, banyak banget Mom yang antusias karena merasa cara ini lebih nyaman dan simpel.
- Sistem "Hub-and-Spoke": Istilahnya keren ya, Moms? Tapi intinya ini soal kerjasama antar lab. Jadi, puskesmas di desa atau pinggiran kota (spoke) terhubung langsung dengan laboratorium besar yang canggih (hub). Hasilnya jadi lebih cepat keluar dan standar pemeriksaannya tetap berkualitas.
- Tes DNA HPV yang Lebih Akurat: Berbeda dengan metode lama, tes DNA HPV ini lebih bisa mendeteksi virus penyebab kanker sejak dini. Jadi, kalau amit-amit ada virusnya, bisa langsung ditangani sebelum menjadi parah.
Pemerintah sedang berusaha agar metode ini bisa dipakai di seluruh Indonesia dan masuk dalam tanggungan JKN (BPJS). Jadi ke depannya, kita para Mom bisa lebih rutin skrining tanpa perlu pusing soal biaya atau rasa takut.
“Penguatan deteksi dini menjadi fondasi utama dalam menurunkan beban kanker leher rahim di Indonesia. Studi implementasi ini memberikan bukti penting tentang bagaimana skrining DNA HPV dapat diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan primer melalui model hub-and-spoke, sejalan dengan kebijakan Integrasi Layanan Primer dan Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim. Pembelajaran ini akan menjadi rujukan bersama bagi pemerintah, pemerintah daerah, serta para mitra dalam penyempurnaan kebijakan dan perencanaan perluasan program secara nasional,” ujar dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM), Kementerian Kesehatan RI di acara Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim “Studi Implementasi untuk Mendukung Program ILP: Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim dengan Model Hub & Spoke menggunakan DNA HPV dan Pengambilan Sampel Mandiri di Provinsi Jawa Timur” pada Selasa, 27 Januari 2026, di kantor Kemenkes, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
dr. Siti Nadia juga mengatakan kalau hasil uji coba ini akan menjadi dasar untuk membuat kebijakan baru yang lebih baik untuk kesehatan perempuan Indonesia. “Targetnya, tahun 2030 kita bisa bebas dari ancaman kanker leher rahim!” seru dr. Siti Nadia.
Lee Poh Seng, Direktur PT Roche Indonesia, Divisi Diagnostik, menekankan peran sistem diagnostik dalam mendukung kualitas layanan. “Skrining yang berkualitas membutuhkan sistem diagnostik yang andal dan terintegrasi. Proyek percontohan ini menunjukkan bagaimana penerapan skrining DNA HPV dalam model hub-and-spoke dapat meningkatkan efisiensi operasional, mempercepat waktu penyampaian hasil pemeriksaan, dan mendukung kualitas layanan yang terstandardisasi secara keseluruhan. Kami berkomitmen mendukung penguatan kapasitas diagnostik nasional sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi kanker leher rahim di Indonesia,” ujarnya.
Penguatan Kolaborasi Pemerintah dan Sektor Industri
Keberhasilan pilot project ini juga didorong oleh kesiapan operasional yang kuat, kepemimpinan yang jelas, tim yang terorganisir, dan pelatihan komprehensif bagi tenaga kesehatan.
Namun hasil studi menunjukkan penerimaan di tingkat lapangan masih bervariasi, sehingga penguatan peran dan kepercayaan kader serta staf di fasilitas Kesehatan, menjadi kunci untuk keberlanjutan program dan ekspansi skala nasional.
Maryjane Lacoste, Country Director Jhpiego Indonesia, menyampaikan bahwa penguatan skrining kanker leher rahim memerlukan sinergi antara pemerintah, mitra implementasi, dan sektor industri. “Meski fasilitas kesehatan siap, perbedaan adopsi di lapangan menunjukkan bahwa skrining DNA HPV membutuhkan dukungan lebih luas. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, dan mitra implementasi menjadi kunci agar program dapat berjalan efektif dan berkelanjutan,” katanya.
Direktur Pemasaran Bio Farma, Kamelia Faisal, menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan skrining kanker leher rahim. “Ketahanan kesehatan nasional dibangun dari kemampuan kita mendeteksi dan menangani penyakit secara dini dan terstruktur. Kolaborasi lintas sektor ini adalah bentuk kesiapan Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri melalui transfer teknologi dan penguatan kapasitas dalam negeri dalam meningkatkan akses dan efisiensi layanan skrining DNA HPV. Kami berkomitmen mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat deteksi dini kanker leher rahim melalui ekosistem kesehatan yang terintegrasi,” ujarnya.
Jangan tunda-tunda buat cek kesehatan ya, Moms. Kita ini jantungnya keluarga, jadi kesehatan kita nomor satu. Yuk, dukung gerakan deteksi dini ini biar kita bisa nemenin si Kecil tumbuh besar dengan kondisi yang sehat dan happy!