Jadi Penggerak Ekonomi Keluarga, Kisah Ibu Rumah Tangga Ubah Jerih Payah Jadi Aset Masa Depan!
Bagi banyak ibu, kemandirian finansial bukan tentang memiliki penghasilan besar, melainkan tentang kemampuan mengambil keputusan: menabung, merencanakan, dan memberi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dan keluarganya. Dari teras rumah, dari rutinitas harian, perlahan-lahan lahir perubahan besar.
Perubahan inilah yang dialami para ibu rumah tangga yang mengikuti sebuah program pemberdayaan perempuan yang melatih IRT menjadi agen penjualan produk susu dan yogurt bergizi langsung ke konsumen. Melalui sistem kemitraan tanpa modal, para ibu mendapatkan penghasilan yang setara Upah Minimum Regional (UMR), sekaligus berperan dalam mendukung akses nutrisi masyarakat di lingkungan sekitarnya. Ribuan ibu rumah tangga telah mengikuti program tersebut dan menjadi penggerak ekonomi dalam rumah tangganya.
Alih-alih hanya menjadi aktivitas tambahan, program ini justru menjadi ruang belajar baru bagi para ibu: tentang disiplin, pengelolaan keuangan, dan keberanian mengambil peran ekonomi di dalam keluarga.
Ibu Niar (45 tahun) dari Tegal memulai langkahnya seperti banyak ibu lainnya: ingin membantu ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan rumah. Bergabung sejak 2017 di program pemberdayaan tersebut, ia membuktikan konsistensi menyisihkan penghasilan berbuah manis.
Di tahun-tahun awal, penghasilan yang ia peroleh hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Namun seiring waktu, ia belajar menyisihkan sebagian pendapatan dan mulai berpikir lebih jauh.
“Dulu fokusnya cukup hari ini,” tuturnya. “Sekarang saya mulai merencanakan lima sampai sepuluh tahun ke depan, dari rumah sendiri sampai biaya kuliah anak,” ceritanya.
Perubahan pola pikir inilah yang menjadi fondasi kemandirian finansial. Bukan soal besar kecilnya penghasilan, tapi bagaimana ibu mampu mengelolanya secara sadar dan berkelanjutan.
Cerita serupa datang dari Ibu Dini (41 tahun) asal Bandung. Melalui penghasilan yang ia peroleh sebagai agen penjualan, ia memilih mengubah hasil kerja kerasnya menjadi bentuk simpanan dan usaha produktif. Emas, rumah, kendaraan, hingga usaha laundry kini menjadi penopang ekonomi keluarga di masa depan.
Sementara itu, Ibu Sunanti (49 tahun) di Jakarta memanfaatkan penghasilannya untuk memodali bengkel sang suami serta menguliahkan kedua anaknya hingga lulus sarjana. Tak kalah inspiratif, Ibu Darini (51 tahun) dari Pondok Aren memetik hasil manis jerih payahnya. Konsistensi dan ketekunan bertahun-tahun berbuah aset berupa sawah produktif, rumah kontrakan, dan mobil yang kini menjadi tabungan jangka panjang keluarga. Ia pun berhasil menunaikan ibadah Umrah ke tanah Suci.
Pencapaian-pencapaian tersebut tidak instan. Tak heran masing-masing ibu tersebut menjadi salah satu penerima penghargaan Miss Cimory Awards 2026 dari jumlah total 461 penerima award. Ini adalah penghargaan untuk peserta program pemberdayaan atas konsistensi dan pencapaian mereka sepanjang tahun. Apresiasi utama diberikan kepada 199 pemenang kategori Growth Business dan 211 pemenang kategori Growth People yang menjadi tulang punggung pertumbuhan perusahaan.
Hendri Viarta, Direktur Cimory Group mengemukakan kebanggaannya, “Bagi kami, pencapaian terbesar program pemberdayaan ini bukan angka penjualan, tapi ketika para ibu mulai membangun aset. Ketika pendapatan berubah menjadi tanah, emas, atau pendidikan anak, di situlah kemandirian ekonomi benar-benar terjadi. Semangat inilah yang mewarnai Awards 2026 tahun ini,” katanya.
Lebih dari sekadar memberi peluang kerja, program ini menekankan pembentukan kebiasaan yang menjadi kunci sukses. Melalui sesi rutin Noon Ceremony (NC), para ibu didampingi melalui pembelajaran rutin yang melatih manajemen waktu, literasi keuangan dasar, pemanfaatan teknologi, hingga cara memandang penghasilan sebagai alat membangun masa depan keluarga.
Bukti nyata, tahun ini 29 anak dari para peserta program berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana (S1), lima di antaranya merupakan anak dari pemenang penghargaan tahun ini. “Bangga rasanya bisa mengantar anak sampai sarjana,” ujar Ibu Tutut dari Yogyakarta. Kedua anaknya kini berprofesi sebagai guru. Kisah ini menegaskan bahwa pemberdayaan ibu bukan hanya investasi ekonomi, tetapi juga investasi pendidikan generasi berikutnya.
“Miss Cimory bukan sekadar program jangka pendek, tapi sebagai sistem pembelajaran hidup,” jelas Hendri. “Dari disiplin harian, ibu-ibu belajar merencanakan masa depan, bukan hanya bertahan hari ini,” tutupnya.