Ketika Dunia Tak Selalu Sunyi: Belajar Memahami Teman Tuli lewat Teater Musikal Jemari Kecil
Moms, dalam keseharian kita, sering kali komunikasi terasa begitu otomatis. Mendengar, berbicara, merespons, semuanya terjadi tanpa perlu dipikirkan panjang. Namun bagi Teman Tuli, dunia bekerja dengan cara yang berbeda. Bukan lebih sempit, justru sering kali lebih peka: membaca gerak, merasakan ritme lewat getaran, dan mengekspresikan emosi melalui bahasa tubuh. Dari realitas inilah Jemari Kecil lahir, sebuah pertunjukan yang mengajak kita belajar, memahami, dan merayakan cara lain dalam merasakan seni.
Ya, pada Sabtu (31/1) lalu, Galeri Indonesia Kaya menghadirkan Jemari Kecil, teater musikal Tuli pertama di Indonesia yang dipersembahkan oleh komunitas Fantasi Tuli. Pentas ini sekaligus membuka rangkaian pertunjukan akhir pekan di Galeri Indonesia Kaya, sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan mendukung seni pertunjukan yang inklusif dan relevan dengan kehidupan hari ini.
Berbeda dari musikal yang biasa kita tonton, Jemari Kecil menghadirkan pengalaman yang unik. Selama kurang lebih 90 menit, penonton diajak mengikuti kisah Mentari, seorang penari Tuli yang kehilangan semangat menari setelah ayahnya —seorang musisi— meninggal dunia. Perjalanan emosional Mentari menemukan kembali makna gerak dan ekspresi terjadi saat ia bertemu Awan, seorang produser musik. Cerita ini disampaikan melalui perpaduan bahasa isyarat, musik, dan teater, membuktikan bahwa emosi tak pernah membutuhkan bahasa lisan untuk dipahami.
Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya, menegaskan pentingnya ruang seperti ini bagi dunia seni pertunjukan. “Melalui pementasan Jemari Kecil, kami ingin menghadirkan panggung yang benar-benar terbuka bagi keberagaman cara berekspresi. Kolaborasi antara seniman tuli dan dengar ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan dapat dihadirkan secara inklusif. Kami percaya seni adalah ruang temu, di mana perbedaan bukan menjadi batas, melainkan kekayaan yang saling melengkapi,” ujarnya.
Fantasi Tuli sendiri bukan nama baru dalam gerakan seni inklusif. Komunitas ini merupakan komunitas musikal Tuli pertama di Indonesia yang mempertemukan seniman Tuli dan dengar dalam satu panggung kolaboratif. Bahkan, Fantasi Tuli telah mencatat sejarah sebagai komunitas Tuli pertama di Indonesia yang menampilkan pertunjukan tunggal musikalnya sendiri, sebuah pencapaian yang membuka banyak pintu dan perspektif baru.
Di balik layar, Jemari Kecil juga dibangun dengan semangat kolaborasi yang setara. Pascal Meliala, pimpinan produksi sekaligus penulis naskah bersama Palka Kojansow, menekankan bahwa tantangan terbesar bukanlah soal teknis. “Kata ‘musikal’ dan ‘tuli’ seharusnya tidak berada di kalimat yang sama. Tapi yang paling sulit dari proses ini bukan mengajarkan Teman Tuli menari atau menjelaskan musik, melainkan membuat cerita yang baik dan menghibur,” ungkap Pascal.
Ia menambahkan bahwa semangat belajar Teman Tuli selama proses produksi justru menjadi pengingat bahwa dengan akses dan lingkungan yang tepat, semua hal mungkin dilakukan.
Pendekatan artistik pertunjukan ini juga istimewa. Kolaborasi antara Hasna Mufidah, sutradara dari kalangan seniman Tuli, dan Dhea Seto dari kalangan dengar, menghadirkan sudut pandang yang saling melengkapi.
Inklusivitas tak hanya terlihat di atas panggung, tetapi tumbuh kuat sejak proses kreatif —dari pengembangan cerita hingga penerjemahan emosi ke dalam bahasa gerak, musik, dan visual. Menariknya lagi, para pementas datang dari lintas generasi, mulai usia 12 hingga 43 tahun, menjadikan Jemari Kecil benar-benar merangkul keberagaman.
Bagi Moms yang ingin mengajak anak atau keluarga, Jemari Kecil bisa menjadi pintu masuk yang hangat untuk mengenalkan nilai empati, inklusivitas, dan keberagaman sejak dini. Pertunjukan ini menjadi pembuka dari rangkaian pementasan musikal Indonesia yang akan hadir setiap akhir pekan di Galeri Indonesia Kaya hingga Maret 2026. Setelah Jemari Kecil oleh Fantasi Tuli, penonton juga dapat menyaksikan berbagai karya dari komunitas dan kelompok seni lainnya, seperti Rumah Pikiran & Hati oleh Jakarta Art House, Sie Jin Kwie Ceng Tang oleh Sanggar Wayang Potehi Siauw Pek San, Lika-Liku (Tur) Belakang Panggung, hingga Pentas Musikal “Kakek dan Perahu Kuning”.
Seluruh rangkaian ini dapat dinikmati secara gratis dan menjadi bagian dari komitmen Galeri Indonesia Kaya dalam membuka akses seluas-luasnya terhadap seni pertunjukan yang inklusif, edukatif, dan relevan dengan kehidupan masyarakat.