ads

Kisah Andien Aisyah Melawan Kanker Payudara dan Pentingnya Proteksi Kesehatan Jangka Panjang Hadapi Risiko Kanker

Novita Sari - Jumat, 22 Mei 2026
Andien Aisyah (paling kiri) berbagi kisah saat menderita kanker payudara di usia 16 tahun dimana masih terasa sangat tabu untuk dibicarakan saat itu. Foto: Ist
Andien Aisyah (paling kiri) berbagi kisah saat menderita kanker payudara di usia 16 tahun dimana masih terasa sangat tabu untuk dibicarakan saat itu. Foto: Ist
A A A

Bagi sebagian besar orang, usia 16 tahun adalah masa-masa paling indah yang dipenuhi tawa khas remaja SMA, obrolan tentang tugas sekolah, dan rencana masa depan. Namun, bagi penyanyi sekaligus aktivis kesehatan perempuan, Andien Aisyah, usia tersebut menjadi titik balik yang mengagetkan dalam hidupnya. Di tahun 2002, saat sedang berada di kamar mandi, jemarinya tidak sengaja merasakan sebuah benjolan asing di area payudaranya.

Awalnya, Andien sempat mengira itu hanyalah kelenjar biasa yang membengkak menjelang masa menstruasi. Ketakutan dan kebingungan sempat membuatnya memendam temuan itu sendirian, tanpa berani bercerita kepada Ibunya maupun berkonsultasi ke dokter. Maklum saja, saat itu informasi mengenai kesehatan payudara belum semasif dan terbuka seperti sekarang. Ditambah lagi, tidak ada satu pun riwayat tumor atau kanker di dalam silsilah keluarganya.

Ketika benjolan itu terasa semakin nyata dan membesar, Andien akhirnya memberanikan diri untuk berbicara kepada sang Ibu. Pemeriksaan medis pun segera dilakukan, dan dokter menyatakan bahwa benjolan tersebut adalah tumor agresif yang berpotensi kuat berkembang menjadi kanker jika tidak segera ditangani. Operasi pengangkatan pun menjadi jalan yang harus ditempuh di usianya yang masih sangat muda.

"Waktu itu, operasi tersebut sempat membuat saya kehilangan rasa percaya diri karena meninggalkan bekas sayatan yang nyata. Saya bahkan merasa malu untuk bercerita kepada teman-teman sebaya. Sakit di area sensitif seperti itu masih terasa sangat tabu untuk dibicarakan saat itu," kenang Andien saat peluncuran PRULady, solusi perlindungan kanker payudara komprehensif di Indonesia, Kamis, 21 Mei 2026 di kawasan Sudirman, Jakarta.

Pengalaman masa muda itulah yang kemudian menuntun Andien untuk mendedikasikan tugas akhir kuliahnya pada kampanye kanker payudara, menjadi sukarelawan di berbagai rumah singgah, hingga aktif menyuarakan pentingnya mematahkan stigma negatif seputar penyakit ini.

Realita Kasus Usia Muda dan Fenomena "Menunda" di Indonesia

Kisah yang dialami Andien bukanlah kasus tunggal. Data dari GLOBOCAN 2022 menunjukkan bahwa kanker payudara kini menduduki peringkat tertinggi dalam kasus kanker baru pada perempuan di Indonesia, dengan jumlah mencapai sekitar 66 ribu kasus (lebih dari 30% dari total kasus kanker perempuan).

dr. Arif Winata, Sp.B (K) Onk, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi. Foto: Ist
dr. Arif Winata, Sp.B (K) Onk, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi. Foto: Ist

Lebih memprihatinkan lagi, dunia medis di Indonesia kini semakin sering berhadapan dengan populasi pasien kanker payudara yang berusia relatif muda, yaitu di bawah 40 tahun. Menurut dr. Arif Winata, Sp.B (K) Onk, Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi dari RS EMC Grha Kedoya, sebagian besar pasien baru datang menemui dokter ketika penyakitnya sudah memasuki stadium lanjut (stadium 3 atau 4).

"Bila ditemukan sejak dini saat masih berupa benjolan kecil dan belum menyebar, peluang sembuh dan tingkat bertahan hidup pasien berdasarkan data American Cancer Society bisa mencapai 99%. Sebaliknya, jika sudah masuk stadium lanjut, penanganannya menjadi jauh lebih kompleks, melibatkan kemoterapi pra-bedah, membutuhkan waktu marathon yang panjang, serta biaya yang sangat besar," jelas dr. Arif.

Mengapa banyak perempuan menunda pemeriksaan? Temuan survei "Studi Prudential - Suara Pasien Indonesia" bersama Economist Impact mengungkapkan fakta pilu: 9 dari 10 responden mengaku menunda perawatan, dan hampir setengahnya menyatakan berulang kali menunda pengobatan. Alasan utamanya sering kali karena faktor psikologis budaya (kultur) di Indonesia: sebanyak 40% pasien merasa takut merepotkan atau menjadi beban finansial bagi keluarganya.

Menjawab Kekhawatiran Lewat Gerakan Proteksi Komprehensif

Berangkat dari momentum Hari Kebangkitan Nasional, langkah nyata mutlak diperlukan untuk mengubah ketakutan menjadi tindakan preventif yang memberdayakan. Menjawab tantangan tersebut, PRULady dirancang bukan sekadar produk asuransi komersial komparatif biasa, melainkan sebuah gerakan (movement) kepedulian (self-care) untuk mendampingi perempuan di setiap fase kehidupan mereka agar berani melangkah tanpa ragu demi #JadiVersiTerhebatmu.

Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara 2025-2034 yang dicanangkan Kementerian Kesehatan RI, produk perlindungan jiwa tradisional ini menawarkan berbagai keunggulan komprehensif dengan premi terjangkau mulai dari Rp300 ribuan per bulan.

Vikas Sinha, Vice President Director Prudential Indonesia. Foto: Ist
Vikas Sinha, Vice President Director Prudential Indonesia. Foto: Ist

“Inovasi ini lahir dari kebutuhan dan kekhawatiran masyarakat khususnya para perempuan di Indonesia terhadap kondisi kesehatannya. Kanker payudara merupakan kanker dengan kasus baru tertinggi pada perempuan di Indonesia. Selain itu, 9 dari 10 orang mengaku menunda perawatan, dan hampir setengahnya menyatakan mereka berulang kali menunda pengobatan. Hal ini menyebabkan banyak pasien kanker baru terdeteksi di stadium lanjut. Untuk itu kami hadirkan solusi perlindungan komprehensif yang mencakup deteksi dini hingga pengobatan, sekaligus penguatan upaya promotif, dan preventif sehingga perempuan di Indonesia dapat terus menjalani hari mereka dan menjadi versi terhebatnya,” terang Vikas Sinha, Vice President Director, Prudential Indonesia.

Ya, perjalanan melawan kanker bukanlah sebuah laga lari cepat (sprint), melainkan sebuah marathon yang membutuhkan kesiapan mental, fisik, dukungan moral dari support system, serta kesiapan finansial yang matang.

Melalui edukasi deteksi dini dengan gerakan "SADARI" (Periksa Payudara Sendiri) dan proteksi finansial yang tepat, perempuan Indonesia kini dapat melangkah maju secara mandiri, sehat, dan siap menghadapi masa depan dengan penuh keyakinan.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Kisah Andien Aisyah Melawan Kanker Payudara dan Pentingnya Proteksi Kesehatan Jangka Panjang Hadapi Risiko Kanker
img
Together for Atopic Skin: Merawat Kulit Atopik, Mendampingi Keluarga Indonesia
img
Belajar dari Dave Hendrik dan Iwet Ramadhan: Mengapa Merasa Sehat Saja Tidak Cukup untuk Menghalau Risiko Stroke dan Jantung
img
6 dari 10 Anak Muda Urban Indonesia Lebih Memilih Swadiagnostik Saat Sakit