Screen Time Mencapai hingga 18 Jam, Kesehatan Mata Kini jadi Prioritas Utama
Pernahkah kamu menghitung berapa jam waktu yang dihabiskan untuk menatap layar ponsel atau laptop dalam sehari? Bagi sebagian besar profesional dan generasi muda urban saat ini, angka screen time bisa mencapai 10 hingga 18 jam sehari.
Di tengah gempuran gaya hidup digital, intensive near work activities, dan ketergantungan pada gadget, kesehatan mata kini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan prioritas utama.
Bahkan sebuah prediksi global yang cukup mengejutkan menyebutkan bahwa pada tahun 2050 mendatang, hampir setengah dari populasi dunia diperkirakan akan mengalami miopia atau rabun jauh. Fakta ini menjadi alarm keras bahwa kebutuhan akan koreksi serta perlindungan penglihatan, tengah meningkat sangat pesat.
Namun, jika kita berbicara tentang kacamata atau lensa kontak, apakah ini hanya urusan "pakai lalu selesai"?
Dalam kesempatan media gathering, Rabu, 01 Juli 2026 di Jakarta, Evy Adryani, Business Development Manager PT Katamata menerangkan, jika ditelusuri, perjalanan (journey) kesehatan mata setiap orang sangatlah dinamis.
"Mulai dari masa kanak-kanak dengan mata yang masih sehat, memasuki usia sekolah dimana tantangan gadget dimulai, hingga menginjak usia 35 atau 40 tahun ke atas ketika "usia mata tidak bisa dibohongi". Di fase senior ini, koreksi penglihatan seperti lensa progresif—yang membantu melihat jarak dekat, menengah, dan jauh tanpa garis pembatas—menjadi sebuah kebutuhan mutlak," jelas Evy.
Evy juga mengatakan, di balik kebutuhan visual setiap individu tersebut, sebenarnya ada ekosistem industri yang sangat besar dan saling berkolaborasi. Menurutnya, industri ini tidak hanya melibatkan satu pihak, melainkan mata rantai yang kompleks:
- Tenaga Kesehatan Profesional & Dokter Mata: Pihak medis yang memeriksa dan mendiagnosis kondisi kesehatan mata, mengukur minus, hingga kesehatan pupil.
- Produsen Lensa & Frame: Raksasa teknologi yang merancang material kokoh sekaligus estetik.
- Produsen Lensa Kontak (Contact Lens Producers): Inovator yang menggabungkan fungsi medis dengan estetika.
- Retail Optik (Optical Retails): Jembatan utama yang mempertemukan seluruh produk ini langsung ke tangan konsumen.
- Produk Perawatan Mata (Eye Care Products): Mulai dari tetes mata harian hingga cairan pembersih khusus.
Saat ini pun fungsi eyewear telah bergeser secara masif. Kacamata dan lensa kontak tidak lagi sekadar alat bantu penglihatan (vision correction), melainkan telah bertransformasi menjadi bagian dari eyewear fashion, alat ekspresi diri (self-expression), membangun personal imej, serta meningkatkan rasa percaya diri harian.
Inovasi Teknologi Melawan "5 Musuh Penglihatan"
Menjawab kebutuhan konsumen modern yang menginginkan satu solusi lensa untuk segala kondisi, inovasi teknologi lensa kini bergerak sangat cepat. "Salah satunya adalah kehadiran material premium seperti MR8 yang menghasilkan lensa tipis, ringan, namun sangat kokoh dan tidak mudah pecah—sebuah solusi estetika bagi pemilik minus tinggi agar tidak perlu lagi merasa tidak percaya diri dengan lensa yang tebal," kata Iqbal Satria Perdana dari Excellenz X MataMata Eyewear.
"Bukan hanya itu, teknologi lapisan pelindung mutakhir seperti Vivocode juga dihadirkan untuk membantu mata melawan 5 musuh utama penglihatan, yaitu: Air, Debu, Minyak, Goresan, dan Pantulan Cahaya. Ditambah dengan perlindungan wajib dari bahaya sinar biru (blue light) serta sinar UV, sebuah kacamata kini berfungsi sebagai tameng pelindung total dalam aktivitas digital yang padat," papar Iqbal.
Integrasi Health & Beauty: Aman, Legal, dan Terpercaya
Bagi pencinta fleksibilitas yang lebih memilih lensa kontak untuk menunjang aktivitas harian, pasar saat ini memang menawarkan pilihan yang sangat beragam—mulai dari variasi diameter hingga motif yang unik. Namun, ada satu hal krusial yang sering terlupakan demi mengejar aspek kosmetik: Faktor keamanan dan legalitas.
Hal itu turut diungkapkan oleh Dessy Rachmadani dari Spex Symbol yang menyebut, lensa kontak sejatinya adalah alat kesehatan yang berada di bawah regulasi ketat Kementerian Kesehatan.
"Oleh karena itu, penting bagi konsumen untuk memastikan produk yang mereka gunakan, memiliki nomor AKL (Alat Kesehatan Luar Negeri) resmi yang terdaftar di Kemenkes RI," tandas Dessy.
Melalui sinergi kuat antara teknologi lensa, tren mode frame, dan jaringan retail optik tepercaya yang tersebar di berbagai kota Indonesia, baik secara offline maupun online, industri eye care kini resmi bertransformasi menjadi eye beauty. Sebuah gerakan bersama untuk memastikan masyarakat tidak hanya mendapatkan penglihatan yang lebih baik (better vision), tetapi juga kenyamanan ekstra (better comfort), keamanan yang terjamin, serta kualitas hidup yang jauh lebih baik.
Untuk itulah, melalui tiga brand contact lens yang menjadi bagian dari portofolionya yaitu X2, Exoticon, dan Honeyelens, Katamata ingin memperkenalkan lebih dekat perusahaan beserta komitmennya dalam menghadirkan solusi eye care yang inovatif bagi masyarakat Indonesia.
Sejak 2001, perusahaan yang bergerak di industri eye care, dengan portofolio yang mencakup contact lens dan contact lens care product sebagai solusi pendukung kesehatan ini, terus menghadirkan produk yang mengutamakan kualitas, kenyamanan, keamanan, serta inovasi yang relevan dengan kebutuhan konsumen.
Mengusung filosofi "Creating a Better Life for Everyone", mereka percaya bahwa setiap produk yang dihadirkan memiliki tujuan yang lebih besar dari sekadar memenuhi kebutuhan pasar. Mereka ingin membantu masyarakat melihat lebih baik, merasa lebih nyaman, dan tentunya lebih percaya diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
"Kami berharap dapat bersama-sama meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mata serta mendukung perkembangan industri eye care di Indonesia," ujar Evy.
"Melalui X2, Exoticon, dan Honeyelens, kami terus menghadirkan pilihan contact lens yang mampu menjawab kebutuhan konsumen yang semakin beragam—mulai dari kesehatan mata, kenyamanan penggunaan, hingga ekspresi diri dan gaya hidup," pungkas Evy.