Miel di Kaki Gunung Pangrango
- Cerita: Rio Christiawan
- Ilustrasi: Agung Hari Parjoko
- Translator: Cathelea Sumirat
Siang itu, Dogo, sang macan tutul, berjalan mengitari hutan di kaki Gunung Pangrango. Ia bertemu Elmi, seekor elang jawa yang sedang hinggap di pohon lebat. "Elmi, mengapa terbang sampai ke dalam hutan?" tanya Dogo.
"Hutan ini sudah berubah, Dogo. Pepohonan besar hanya tersisa di bagian dalam," keluh Elmi. "Benar, cuaca juga semakin panas. Aku sampai tidak bisa menandai pergantian musim," sambung Dogo. "Omong-omong, ke mana, Miel? Aku tidak melihatnya seharian," tanya Dogo pada Elmi.
Tak lama, Miel si monyet ekor panjang muncul sambil terengah-engah. "Aku habis mencari makanan sampai ke dekat perkampungan manusia. Makanan di hutan ini semakin berkurang," keluh Miel. "Makanan asliku juga mulai sulit ditemukan," timpal Elmi.
Miel kemudian bercerita dengan binar bahagia, "Hari ini aku bertemu sepasang anak kecil yang baik hati. Mereka membagikan buah-buahan yang sudah langka di sini. Berkat mereka, aku tidak kelaparan." "Wah, kamu beruntung sekali," ujar Dogo.
Sepasang anak yang dimaksud Miel adalah Babas dan Mia, anak-anak dari perkampungan adat di kaki Gunung Pangrango. Sepulang sekolah, mereka sering memungut sampah plastik di tepian hutan. Babas membawa wadah untuk ranting, daun, dan buah yang jatuh, sementara Mia mengumpulkan sampah plastik untuk didaur ulang menjadi tas.
Ranting dan daun seperti hariang dimanfaatkan warga sebagai obat dan bumbu masak. Sedangkan biji-bijian yang mereka temukan sering diberikan kepada hewan hutan seperti Miel.
Hari itu, Babas dan Mia melihat Miel berjalan ke dalam hutan. Karena khawatir Miel kelaparan, mereka mengikutinya. Saat dihampiri, Miel langsung menyambut mereka. Babas segera menyodorkan buah dan biji-bijian yang langsung disantap Miel dengan lahap.
Tiba-tiba, Mia menunjuk ke atas pohon, "Babas, lihat! Ada elang Jawa." "Jika elang jawa jarang terbang, artinya ia kekurangan makanan dan rantai makanannya terancam. Hutan ini harus dijaga agar ekosistemnya tetap seimbang," jelas Babas.
Saat hendak pulang, Miel tiba-tiba menyusul dan menarik perhatian mereka. Babas dan Mia mengikuti Miel dan terkejut mendapati Dogo, sang macan tutul, tergeletak lemas. Mereka segera berlari mencari pertolongan ke pengurus kampung.
Keesokan harinya, mereka mendapat kabar bahwa Dogo lemas karena giginya banyak yang berlubang sehingga ia tidak bisa makan. Di sekolah, Ibu Aat, guru mereka, menjelaskan bahwa macan seperti Dogo biasanya menghindari manusia, berbeda dengan monyet seperti Miel yang bisa sangat akrab.
"Miel adalah mamalia yang memiliki perasaan seperti kalian," ujar Ibu Aat. "Aku tidak sabar ingin bermain dan memeluk Miel lagi," bisik Babas pada Mia.
Begitu bel pulang berbunyi, mereka langsung berlari ke hutan untuk bermain dan memberi makan Miel. Ketika hari mulai sore, Mia mengajak Babas pulang.
Sesampainya di pekarangan rumah, kelinci peliharaan Babas berlari menyambut mereka. "Babas, apakah kelinci ini termasuk mamalia juga?" tanya Mia. "Benar, Mia. Kelinci adalah mamalia. Setiap sore ia selalu menyambutku pulang," jawab Babas tersenyum.
Setelah saling mengucapkan selamat sore, mereka pun masuk ke rumah masing-masing.