Prestasi Terbaik

  • Cerita: Seruni
  • Ilustrasi: Agung Hari Parjoko
  • Translator: Listya Natalia Manopo
Rabu, 17 Desember 2025
Prestasi Terbaik
Prestasi Terbaik
A A A

       Sejak kecil, Lula selalu mengagumi maket arsitektur yang dibuat Ayah dan Ibunya. Rasanya, luar biasa kalau memikirkan bahwa bangunan-bangunan kecil yang dibuat dengan tangan itu, akan dibangun dalam ukuran besar, dan akan ditinggali oleh orang. Lula pun bercita-cita menjadi ahli rancang bangun seperti Ayah dan Ibunya.

      Tetapi, di negeri tempat Lula tinggal, yaitu Negeri Beto, banyak sekali ahli rancang bangun yang berbakat. Hal ini membuat Lula harus bersaing dengan mereka semua, dan ini membuat Lula lelah serta tidak percaya diri.

      Jika Lula merancang gedung indah, pasti ada rancangan lain yang lebih indah. Dan lagi, ada seorang ahli rancang bangun yang tidak menyukai Lula karena iri padanya, namanya Hado.  

      Sebetulnya, yang membuat Hado membenci Lula hanyalah masalah kecil.  Satu nilai yang diperoleh Lula dalam tugas rancang bangun, lebih tinggi dari Hado. Hado yang sombong dan berasal dari keluarga kaya serta berpengaruh, tidak menyukai hal ini.

      “Apa yang harus kulakukan?” keluh Lula yang kesal karena diganggu Hado terus menerus. “Bagaimana kalau kau tinggalkan saja cita-citamu merancang bangunan di kota? Sudah terlalu banyak ahli rancang bangun yang ingin terkenal di kota, mereka semua akan melakukan apa pun untuk menjatuhkan satu sama lain,” kata teman Lula. Lula setuju dengan saran temannya.

       Suatu hari, Lula mendengar tentang dibutuhkannya ahli rancang bangun di sebuah desa bernama Dolu. “Mungkin aku bisa membangun bangunan di sana,” kata Lula. Lula segera mendaftarkan dirinya ke Desa Dolu. Beberapa hari kemudian, Lula pergi ke Desa Dolu. Sesampainya di sana, dia kagum akan pemandangan hijau dan udara sejuk yang tak pernah dia temukan dan rasakan di kota.

       “Luar biasa,” kata Lula senang. “Selamat datang di desa kami,” kata Kepala Desa menyambut Lula. “Terima kasih, aku dengar Anda dan masyarakat desa membutuhkan bangunan balai desa baru,” kata Lula. “Benar sekali dan aku yang akan membangun balai desa Dolu, bukan dirimu!” suara lantang yang sudah tak asing lagi mengagetkan Lula. Rupanya itu Hado. “Mengapa kau ke sini? Bukankah kau sudah mendapatkan pekerjaan bagus membangun gedung-gedung megah dengan upah yang tinggi di kota?” tanya Lula. “Aku hanya ingin mengalahkanmu dan mendapat prestasi yang terbaik,” jawab Hado.

       Lula menghela napas sedih. “Tapi, kami hanya membutuhkan satu ahli rancang bangun,” kata Kepala Desa. “Itu mudah. Aku dan Lula akan membuat maket bangunan balai desa baru, dan Anda serta masyarakat desa akan memilih, maket siapa yang mendapat suara terbanyak,” kata Hado angkuh. “Baiklah,” kata Kepala Desa.

        Hado menyelesaikan maketnya dengan cepat. Dan dia mengejek Lula yang belum mulai mengerjakan maketnya. “Kau pasti sudah hilang harapan karena tahu akan kalah dariku!”  kata Hado pada Lula. Lula hanya diam saja, tidak membalas ejekan Hado. Lula sedang mencari ide untuk maketnya. Dia sibuk melihat dan meneliti bangunan balai desa yang lama. Lula juga berjalan-jalan menyusuri Desa Dolu, mengagumi alam desa yang indah. “Aku ingin membangun bangunan yang cocok untuk Desa Dolu,” kata Lula.

         Akhirnya, tibalah saat memilih. Hado melihat maket yang dibuat Lula dan tertawa. “Kau sebut itu bangunan? Itu hanya memindahkan kayu dan menyusunnya!” ejek Hado. Maket Lula menampilkan bangunan kayu sederhana, berbeda dengan maket Hado yang menampilkan bangunan canggih dan megah, seperti yang ada di kota.

        Tapi, hasil pemilihan sangat mengejutkan. Kepala Desa dan masyarakat desa semua memilih maket Lula. “Kenapa kalian tidak memilih bangunanku yang canggih dan bagus?!” tanya Hado kecewa dan marah. “Kami memilih bangunan Lula karena bangunan itu berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Bangunan Lula menghormati Desa Dolu. Sedangkan bangunan Anda, tidak canggih dan bagus di mata kami, melainkan aneh dan sombong,” jelas Kepala Desa.

        Mendengar ini, Hado segera kembali ke kota dan tidak pernah lagi mengganggu Lula. Dia malu karena kalah. “Kami tidak bisa membayar bangunan Anda dengan harga yang mahal,” kata Kepala Desa. “Yang lebih penting bagiku adalah bangunan dihargai dan disukai. Itulah prestasi terbaik bagiku,” kata Lula.