Kerajaan Jaya

  • Cerita: Seruni
  • Ilustrasi: Agung Hari Parjoko
  • Translator: Listya Natalia Manopo
Rabu, 17 April 2024
Kerajaan Jaya
Kerajaan Jaya
A A A

Kerajaan Jaya yang dipimpin oleh Ratu Lida  sangat ditakuti kerajaan-kerajaan lain. Rakyatnya makmur dan memiliki militer yang kuat. Suatu hari, kerajaan tetangga dari Kerajaan Jaya, yaitu Kerajaan Lima meminta bantuan pada Ratu Lida.

“Yang Mulia Ratu, tolong usir militer kerajaan lain yang hendak menyerang kami! Buat mereka jera dengan kekuatan kalian,” kata Raja Lima. “Tentu saja, Raja Lima, kami akan mengerahkan kuda-kuda api, prajurit kayu, dan kereta perang,” kata Ratu Lida.

Ratu Lida lalu meminta penyihir Kerajaan Jaya yang bernama Nuna untuk mempersiapkan peralatan perang. “Akan siap dengan sempurna, Yang Mulia,” kata Nuna bangga, ikut berperan dalam mengharumkan nama kerajaannya.

Nuna segera pergi ke Pulau Hijau. Di pulau ini ada hewan ajaib dan pohon-pohon yang digunakan Kerajaan Jaya untuk alat perang. Dengan sihirnya, Nuna membuat kuda-kuda api menuruti kemauannya dan membuat kereta perang dari pohon-pohon di pulau itu.

Yang terakhir, Nuna membuat prajurit-prajurit kayu yang tak terkalahkan. Nuna segera mengirimkan peralatan perang sempurna itu ke Kerajaan Lima. Di sana peralatan perang Kerajaan Jaya berhadapan dengan peralatan perang kerajaan musuh. Kerajaan Jaya keluar sebagai pemenang.

Pesta besar diadakan untuk merayakan kemenangan Kerajaan Jaya. Semua bersuka cita kecuali seorang bernama Pida. “Pida mengapa wajahmu murung? Padahal kau adalah ilmuwan jenius!” kata Nuna. “Aku sedih karena aku melihat sesuatu yang tidak kalian lihat, dan itu adalah sebuah kemalangan,” kata Pida. “Tidak akan ada kemalangan, Pida, Kerajaan Jaya adalah kerajaan yang tidak akan terkalahkan!” kata Ratu Lida.

“Betul sekali dan sebagai ganti kemenangan kalian, ada banyak yang menjadi korban. Tapi tentu saja dalam tradisi Kerajaan Jaya, aku tidak boleh mengatakan hal buruk saat perayaan kemenangan kerajaan, karena hal itu melanggar hukum,” kata Pida.

Beberapa bulan kemudian, masih dalam rangka perayaan kemenangan Kerajaan Jaya, Ratu Lida menjanjikan perlindungan pada sebuah kerajaan kecil lain. Rakyat menyambut dengan gembira, dan Nuna sudah bersiap pergi ke Pulau Hijau. Tapi sebelum Kerajaan Jaya mempersiapkan peralatan perang mereka, tiba-tiba hal mengerikan terjadi.

Langit berubah menjadi gelap. Hujan badai turun terus tanpa henti, dan kemudian hilang begitu saja. Sebagai gantinya, muncul panas terik berkepanjangan, menyebabkan kekeringan dan kebakaran. Cuaca yang ekstrim ini menyebabkan bencana kelaparan.

Lalu sebagai pelengkap penderitaan, terjadi serbuan hewan-hewan ajaib yang marah. Hal ini tidak hanya terjadi di Kerajaan Jaya, tapi di kerajaan-kerajaan lain juga. Ratu Lida dan rakyat Kerajaan Jaya tidak lagi memikirkan kejayaan yang mereka raih dengan perang, mereka kini memikirkan cara untuk bertahan dari semua bencana ini.

“Apa yang sebetulnya terjadi?” tanya Ratu Lida yang sedih dan bingung. Sebagai jawaban, Pida menyerahkan sebuah buku. Buku itu berisi pengamatannya sebagai seorang ilmuwan dan penelitiannya di Pulau Hijau. “Ternyata, Pulau Hijau adalah sumber keseimbangan alam di dunia kita.  Jadi...semua bencana ini terjadi karena kita mengeksploitasi makhluk hidup di sana tanpa henti!” ujar Ratu Lida terkejut dan sedih. “Lalu apa yang akan Anda lakukan sekarang, Yang Mulia?” tanya Pida. “Aku akan memperbaiki kesalahanku,” kata sang Ratu.

Kerajaan Jaya kini tidak lagi ingin ditakuti dengan julukan negara terkuat. Setelah berunding dengan rakyatnya, Ratu Lida membentuk perserikatan kerajaan, berdamai dengan kerajaan-kerajaan yang pernah berperang dengan Kerajaan Jaya. Dan dalam keadaan damai, semua kerajaan bekerja sama memperbaiki Pulau Hijau.

Para ilmuwan dari masing-masing kerajaan menjadi pimpinan dalam hal ini, dan ketua mereka adalah Pida. Kerajaan Jaya kini tahu apa akibat keangkuhan mereka dan sejak saat itu mengubah cara hidup mereka, menghormati alam dan makhluk hidup lain yang hidup berdampingan dengan mereka di dunia.