Danau Raspberry

  • Cerita: Seruni
  • Ilustrasi: Agung Hari Parjoko
  • Translator: Listya Natalia Manopo
Jumat, 16 Februari 2024
Danau Raspberry
Danau Raspberry
A A A

Musim dingin tiba, dan Asa si angsa bersiap memimpin teman-temannya untuk bermigrasi.

“Teman-teman, hari ini kita kembali bermigrasi. Ingatlah, jangan cepat menyerah, makanan lezat menanti kita!” kata Asa memberikan semangat pada teman-temannya. “Kami siap, Asa! Ayo, kita pergi!” sahut teman-teman angsanya. Asa mengepakkan sayapnya dan terbang, kemudian teman-temannya mengikuti.

Perjalanan ini juga merupakan kebebasan bagi Asa dan teman-temannya dari penindasan dan caci maki.

Sebelum bermigrasi, Asa dan teman-temannya tinggal di danau luas bersama kawanan angsa lainnya. Tapi, Asa dan teman-temannya berbeda dari kawanan angsa ini. Perbedaannya adalah, makanan yang dimakan.  

Asa dan teman-temannya hanya bisa makan buah dan daun raspberry. Hal ini menyebabkan mereka diejek dan lama kelamaan ditindas serta dikucilkan.

Asa dan teman-temannya memutuskan pergi mencari tempat baru untuk mereka tinggal. Akhirnya, setelah lama mencari, mereka mendengar tentang danau raspberry, danau yang di sekelilingnya tumbuh pohon raspberry.

Asa dan teman-temannya memutuskan untuk pergi ke sana.

“Teman-teman, lihat di bawah sana! Itu danau raspberry! Kita sampai!” seru Asa pada teman-temannya. Angsa-angsa itu sangat bahagia. Mereka menukik turun dengan cepat. Tapi, sebelum mencapai tanah, Asa dan teman-temannya dikejutkan oleh gerombolan kelelawar yang menghadang mereka.

“Kalian pikir bisa tinggal di sini dengan mudah?!” seru seekor kelelawar. “Kalahkan aku, Kebu si kelelawar buah dulu!” kata kelelawar terbesar, si pemimpin yang bernama Kebu. “Hei Kebu, aku Asa, angsa yang mewakili teman-temanku,  akan melawanmu! Ayo, kita lomba terbang!” seru Asa.

Tapi, Asa sudah kecapaian karena terbang jauh. Dia kalah. Teman-teman angsa Asa tidak memarahinya. Mereka menghibur Asa yang kecewa dan merasa bersalah.

Para kelelawar ternyata tidak bergembira karena menang, dan mereka semua, sama seperti Kebu, memandang ke arah danau dengan kecewa. Ada yang aneh. Apa yang sebenarnya terjadi? “Kenapa pohon-pohon raspberry tidak muncul dari danau?! Padahal kita sudah mengalahkan angsa-angsa!”  keluh Kebu. “Apa?! Mengapa pohon-pohon raspberry bisa berada di dasar danau?” tanya Asa bingung.

Kebu lalu bercerita. Ternyata, seorang penyihirlah yang membuat ulah. Beberapa hari yang lalu, si penyihir yang mengunjungi danau, terpeleset buah raspberry dan jatuh. Karena kesal, dia menyihir semua pohon raspberry yang ada, masuk ke dalam danau.

“Tentu saja kami panik. Kami minta agar pohon-pohon raspberry dikembalikan seperti semula, karena itu makanan kami. Si penyihir bilang, kami harus mengalahkan angsa-angsa pemakan raspberry yang akan datang ke sini. Tapi ternyata dia berbohong! Kita semua tidak bisa makan!” kata Kebu sedih.

“Kalian tidak perlu khawatir, kami bisa membantu. Lihat leher panjang kami. Leher ini bisa membantu kepala kami menjangkau dan memetik buah raspberry di danau untuk kalian dan untuk kami juga. Dan jangan takut kehabisan buah. Kami bisa makan daun raspberry,” kata Asa.

Mendengar perkataan Asa, Kebu jadi terharu. “Ketika melihat teman-teman angsamu menghiburmu ketika kau kalah, aku jadi yakin kalau kalian tidak jahat. Maafkan kami karena sudah bersikap buruk,” kata Kebu. “Kami mengerti Kebu, jangan khawatir. Kita angsa dan kau kelelawar sama. Membutuhkan raspberry untuk makan. Kita seharusnya berteman, bukan menjadi musuh. Ketika sesuatu terjadi dengan pohon-pohon raspberry, kita bisa bekerja sama mencari jalan keluar,” kata Asa.

“Kau benar, Asa. Selamat datang di Danau Raspberry kawan! Aku menyambutmu dan para angsa dengan senang hati!” kata Kebu gembira. Para angsa dan kelelawar bersorak bahagia. Mereka terbang bersama untuk merayakannya.