Kaka si Kakatua

  • Cerita: Seruni
  • Ilustrasi: Agung Hari Parjoko
  • Translator: Listya Natalia Manopo
Senin, 11 Maret 2024
Kaka si Kakatua
Kaka si Kakatua
A A A

Kaka adalah anak tertua di sebuah keluarga besar kakatua. Tapi sayang sekali, menurut keluarganya, dia sama sekali bukan anak tertua yang patut diteladani. Kaka tidak istimewa seperti adik-adiknya. Dia tidak bisa berbicara banyak, dan bulunya tidak berwarna-warni. Kedua hal ini membuatnya sering diejek oleh adik-adiknya. Kaka lama kelamaan menjadi kesal dengan keadaan ini dan dia memutuskan untuk keluar dari rumahnya.

Walaupun sudah tinggal sendiri, Kaka tetap saja tak merasa bahagia. Dia selalu teringat akan ejekan adik-adiknya. “Apa yang harus kulakukan?” keluhnya bingung. Pada  suatu hari dari sebuah pohon di tepi jalan, dia melihat seorang nenek kebingungan. Rupanya si nenek meninggalkan buku yang dibacanya tapi lupa dimana. “Ah buku! Aku tahu!” pikir Kaka. Waktu terbang melewati taman, Kaka melihat sebuah buku di bangku taman. “Bangku taman! Bangku taman!” seru Kaka. “Oh ya! Tadi aku membaca dan meletakkan bukuku di bangku taman!” Seru si nenek senang.

Ketika si nenek melewati jalan itu lagi sambil membawa bukunya, dia berkata pada Kaka. “Terima kasih, kau adalah burung kakatua paling istimewa di dunia, karena kau baik hati dan pintar!” Kaka terkejut mendengar pujian si nenek. Itu adalah pujian pertama yang didapatkannya! Sejak itu Kaka bertekad untuk menolong yang kesusahan.

Hari Minggu yang cerah, Kaka yang terbang sendirian mendengar sebuah keributan. Rupanya kawanan gagak terbang berkerumun, dan mereka ada di depan Kaka. “Minggir!” seru mereka. Kaka cepat-cepat memberi jalan untuk kerumunan gagak itu. Tapi kemudian Kaka yang curiga terhadap gagak-gagak itu diam-diam mengikuti mereka. Rupanya gagak-gagak itu menyerang kereta seorang pedagang emas. Mereka mau mengambil emas-emas dalam kereta si pedagang! Kusir kereta dan si pedagang lari ketakutan. Kaka segera mengambil tempat lada di sebuah restoran yang ada di dekat situ dan menumpahkan lada itu pada kawanan gagak.

Kawanan gagak yang bersin-bersin, ketakutan dan segera terbang menjauh. Si pedagang dan kusir kereta sangat berterima kasih pada Kaka. Rupanya si pedagang hendak pergi ke istana dan emas-emas yang dibawa dalam kereta kuda itu adalah kepunyaan sang Raja! “Aku tidak pernah bertemu dengan burung kakatua sehebat dirimu!” kata si pedagang emas. Si pedagang emas rupanya seorang pecinta binatang, dan dia kemudian mengajak Kaka tinggal bersamanya.

Kabar tentang Kaka didengar oleh keluarganya, dan suatu hari mereka mengunjungi Kaka.  “Kaka, kabar tentang kehebatanmu sudah terdengar di penjuru kerajaan. Kami minta maaf karena selalu mengejek dirimu,” kata keluarga Kaka. “Tidak apa-apa, bagaimanapun juga kalian adalah keluargaku. Dan kurasa kalau kalian tidak keras terhadapku, aku tidak akan jadi terkenal seperti ini. Ayo, kita berkumpul bersama lagi seperti dulu,” kata Kaka sambil tersenyum.