Lana si Kutu Buku

  • Cerita: Seruni
  • Ilustrasi: Agung Hari Parjoko
  • Translator: Listya Natalia Manopo
Jumat, 15 Maret 2024
Lana si Kutu Buku
Lana si Kutu Buku
A A A

Lana adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Keluarga Lana memiliki sawah dan kebun yang luas. Setiap tahun, hasil panen mereka selalu dinantikan orang banyak. Ketika duduk di Sekolah Dasar, Lana diminta untuk membantu keluarganya di sawah dan kebun.

Lana sangat suka membaca buku. Ketika sedang ditugaskan menjaga sawah, Lana kadang terlalu asyik membaca hingga 2 saudaranya marah. “Lana! Apa yang kau lakukan? Sekarang hampir panen! Burung-burung pipit akan mengelilingi sawah kita! Cepat pasang jaring perangkap untuk  menangkap mereka!” seru kakak tertua Lana.

“Tenang saja, Kakak, aku sudah menanam bunga-bunga matahari di pematang sawah. Burung pipit tidak suka warna kuning. Perangkap tidak cerdas dan kejam,” kata Lana. “Omong kosong. Jangan terlalu banyak berkhayal! Ini semua gara-gara buku-buku anehmu itu, dasar kutu buku!” kata kakak tertua Lana marah. “Betul sekali. Buat apa membaca buku yang tidak berguna? Bekerja keras seperti kami lebih baik,” tambah kakak kedua Lana.

Walaupun Lana berhasil mengusir hama burung pipit dari sawah, kedua kakaknya tidak terkesan. Ketika Ayah dan Ibu mereka pulang dari perjalanan bisnis di luar kota, kedua kakak Lana mengadu soal Lana.

Ayah dan Ibu Lana memarahi Lana. “Jangan terlalu mempercayai buku, bisa saja pengetahuan yang kau dapat dari buku itu salah,” kata Ayah dan Ibunya. “Tapi, buku itu ditulis oleh orang terpelajar dan ahli,” kata Lana bersikeras. “Lebih baik kau mempercayai kata-kata orang yang sudah lama bekerja di sawah dan kebun, seperti kedua kakakmu,” kata Ayah dan Ibunya lagi.

Waktu berlalu dan keadaan berubah. Cuaca semakin tidak menentu, membuat panen sulit. Hama pengganggu dan penyakit tanaman bertambah, membuat kedua kakak Lana kebingungan menghadapi mereka.

Kedua orangtua mereka bertiga sudah mulai tua dan sakit-sakitan karena terlalu banyak bekerja. “Kita tidak bisa terus terusan begini. Izinkan aku belajar ke kota supaya bisa menyelamatkan sawah dan kebun. Aku ingin belajar membuat alat bantu yang bisa memudahkan pekerjaan kita di sawah dan kebun. Aku tahu ini dari buku-buku yang kubaca,” kata Lana. “Baiklah, jika kau terus menerus bersikeras dengan buku-buku dan khayalanmu itu! Kau bisa pergi dan tidak usah kembali ke sini lagi!” ujar keluarga Lana marah mengusirnya. Lana yang sedih, tidak bisa berkata-kata dan segera pergi dari rumahnya.

Beberapa tahun telah berjalan. Keadaan sawah dan kebun keluarga Lana bertambah buruk. Mereka mulai merugi. “Jika keadaan tidak membaik, kita terpaksa menjual sawah dan kebun kita. Pemilik sawah lain sudah lama bekerja dengan alat bantu yang canggih, dan karena itulah hasil panen mereka berlimpah dan pekerjaan mereka mudah. Andai saja kita mau mendengarkan kata-kata Lana waktu itu, keadaan kita akan berbeda,” kata Ayah dan Ibu Lana. Kedua kakak Lana menunduk sedih. Mereka semua menyesal telah mengusir Lana.

Keesokan harinya, sebuah suara gemuruh di luar membuat mereka semua terkejut. “Ayah, Ibu, Kakak... aku kembali!” seru Lana. “Lana!” panggil Ayah, Ibu, dan kedua kakak Lana menyambutnya dengan gembira, dan meminta maaf telah mengusir Lana. Mereka lalu melihat sumber suara gemuruh yang mereka dengar tadi dan terkejut.

Rupanya, suara itu adalah suara truk yang mengangkut benda-benda aneh yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. “Ini adalah alat-alat buatanku, robot kecerdasan buatan.  Ini semua untuk membantu kita di sawah dan kebun! Ini adalah alat bantu pertanian yang sudah lama aku impikan!” kata Lana bangga.

Robot-robot kecerdasan buatan itu sangat luar biasa. Ada robot pencabut gulma, penanam tanaman, dan pendeteksi cuaca. Ada juga robot pengusir hama yang mengeluarkan suara.

Keluarga Lana kini bekerja dengan bantuan robot-robot kecerdasan buatan canggih yang dibuat Lana. Sawah dan kebun mereka mulai memperoleh hasil panen yang bagus lagi, dan keuntungan kembali. Kehidupan mereka tidak lagi sulit. Kini kedua kakak Lana tidak lagi meremehkan buku-buku yang dibaca Lana. Sekarang mereka juga ikut membaca bersama Lana.