Muma si Marmer

  • Cerita: Seruni
  • Ilustrasi: Agung Hari Parjoko
  • Translator: Listya Natalia Manopo
Rabu, 24 April 2024
Muma si Marmer
Muma si Marmer
A A A

Pulau bernama Sira adalah pulau unik, karena semua jenis batu alam untuk membuat bangunan bisa ditemukan di sana. Batu marmer, batu granit, batu sabak, dan banyak batu lainnya tinggal bersama di pulau Sira. Pulau ini selalu ramai oleh kapal-kapal yang membawa para penambang batu dan para ahli rancang bangun. Batu marmer adalah batu yang selalu dicari di pulau ini, karena batu ini sangat indah kalau dijadikan bangunan. Hal ini membuat batu-batu marmer sangat bangga.  

Suatu hari Muma si marmer putih sedang duduk santai sambil menikmati pemandangan alam. Tak lama kemudian Muma melihat rombongan berkuda datang ke tambang tempat dia dan batu-batu marmer lain tinggal. “Wah, itu Aran, ahli rancang bangun terkenal dari pulau kita!” kata Muma melihat seseorang yang ada di dalam barisan rombongan.

Muma yang ingin tahu segera mengikuti rombongan Aran. Aran berbicara dengan Mara, batu marmer pemimpin tambang. Pembicaraan berlangsung lama. Dan setelah pembicaraan, ada hal yang aneh. Aran bergegas pergi bersama rombongannya, wajahnya murung dan kecewa. Apa yang terjadi? Tapi Muma tidak sempat berpikir lebih jauh karena Mara memanggil semua batu-batu marmer untuk mendengarkan pengumuman penting.

“Kabar gembira teman-temanku! Lagi-lagi reputasi kita sebagai batu terindah di pulau Sira terbukti lagi. Kita akan berdiri bangga di bangunan khusus yang dibuat untuk kita oleh Aran!” kata Mara bangga. Batu-batu marmer bersorak gembira. Mereka tidak akan tinggal di tambang sepi ini lagi! “Luar biasa!” seru Muma bahagia.

Tapi Muma merasakan ada keanehan di balik berita gembira dari Mara. Hal yang biasa terjadi ketika batu-batu akan digunakan sebagai bahan bangunan adalah penjemputan oleh para pekerja. Hal ini terjadi dari jauh-jauh hari. Tapi tidak ada pekerja tambang yang menjemput Muma dan teman-temannya. Muma menanyakan hal ini kepada Mara. “Aku ingin kita pergi berjalan ke lokasi pembangunan sendiri. Kita tidak perlu dijemput,” kata Mara.

Maka, ketika hari pembangunan tiba, Muma dan teman-temannya mengikuti Mara berjalan ke kota menemui Aran. Orang-orang memandang rombongan batu marmer itu. “Kenapa pandangan mereka bukan pandangan kagum, melainkan takut?” gumam Muma. Rombongan marmer sampai di lokasi pembangunan, dan bertemu dengan Aran  yang dikelilingi dengan batu-batu lain. Batu-batu itu ditarik oleh para pekerja.

“Apa maksud kalian, batu-batu marmer, datang ke sini?!” seru sebuah batu granit yang marah. “Kami adalah batu terindah, tentu saja kami harus berada di bangunan ini,” jawab Mara. “Tidak,” kata sebuah suara. Itu suara Aran. Muma tiba-tiba menyadari sesuatu. “Aran...kami, batu-batu marmer tidak digunakan untuk bangunan yang kau rancang ya,” kata Muma pada Aran. Aran memandang Muma dengan sedih dan mengangguk. “Kau berbohong!” seru Mara dengan marah tiba-tiba.

“Kaulah yang berbohong pada teman-temanmu, Mara. Kau mengancamku waktu itu, ketika kita berbicara. Kau bilang akan datang dan akan menetap disini sampai aku menggunakan kalian untuk bangunanku. Kukatakan padamu sekali lagi, aku tidak akan menggunakan kalian, karena perginya batu marmer dari tambang akan berbahaya bagi orang-orang kota!” kata Aran. Muma dan teman-teman marmernya terkejut.

Rupanya, tambang marmer di pulau Sira adalah perlindungan untuk menahan tanah longsor. Pihak berwajib sudah meminta agar tambang ditutup. Mara tidak setuju dan marah. Dia memikirkan nasib teman-temannya. “Tapi Mara...kita tidak boleh jadi batu jahat. Aku akan bangga menjadi batu marmer yang menjaga keselamatan orang-orang,” kata Muma. Marmer-marmer lain setuju pada Muma. “Jika kalian setuju, baiklah,” kata Mara. Sebagai tanda terima kasih, Aran memberikan Muma dan batu-batu marmer hadiah, yaitu ukiran indah. Orang-orang akan mengagumi Muma, Mara, dan batu-batu marmer lain, dan selalu ingat kalau mereka adalah pelindung kota.